Memuat...

Senin, 03 Januari 2011

MINTA TUHAN BERADA DI PIHAKMU



Jika Tuhan dipihak kita, siapa lawan kita? Ayat dalam kitab Roma ini menjadi kekuatan mendasar bagi setiap orang percaya kepada Kristus. Badai pergumulan hidup datang silih berganti, dan itu tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Kedatangan Kristus ke dunia adalah wujud kasih Allah yang terbesar (Yoh. 3:16), dan penggenapan nubuat oleh para nabi merupakan jalan yang pasti bagi umat manusia bahwa tidak ada alasan bagi orang percaya untuk takut kepada Iblis yang membawa kerusakan moral di dunia.

Sering orang bertanya, seberapa jauh kita mempertahankan iman percaya kita kepada Kristus jikalau kita sendiri sering dirundung masalah? Mungkin jawabannya tidak selalu menyalahkan Tuhan, karena Dia tidak pernah salah. Ayub tidak pernah menyalahkan Allah terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya dan keluarga. Alangkah baiknya setiap diri mengoreksi dengan baik apakah sudah berjalan dengan benar dihadapan Tuhan. Ironis memang, disaat kita berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan seolah-olah Dia semakin jauh, tetapi ternyata tidak, kadang pemahaman dan motivasi kita mengikuti Dialah yang salah. Sering manusia memiliki banyak kepentingan untuk dekat dengan Tuhan misalnya ingin mendapatkan berkat atau kesejahteraan fisik semata, bukan yang esensi yaitu keselamatan.

Ayub dengan sabar dan taat merendahkan diri kepada Tuhan ditengah musibah hebat yang menimpanya. Pada akhirnya Tuhan memperhitungkan itu, dan mengembalikan seluruh haknya yang hilang dengan berkali lipat.

Jika Tuhan di pihak kita memang tidak ada yang bisa menghalangi, sekalipun Iblis berusaha keras menggoda.

Sabtu, 29 Mei 2010

KEBAHAGIAAN ORANG BENAR (Mazmur 37:1-9)


Kata “orang fasik” 82 kali ditemukan dalam kitab Mazmur. Kata ini sering disejajarkan dengan “orang benar” sebagai lawan katanya. Arti kata ini harus ditentukan dari konteksnya dari jenis atau bentuk kesusasteraan yang digunakan. “orang fasik” ialah orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dan melanggar persekutuan dan kesetiaan kepada jemaat misalnya orang yang berkanjang dalam dosa (iri hati, dll).

Matthew Henry menganggap bahwa kata ‘ungodly’ / ‘orang fasik’ menunjuk kepada orang yang membuang rasa takut kepada Allah dan hidup dalam pengabaian kewajibannya terhadap Dia. Memberontak secara terbuka terhadap Allah, dan melayani dosa dan setan.

Mengapa anak Tuhan tidak boleh marah melihat orang fasik?

1. Orang fasik tidak mungkin bertahan lama dalam keberdosaan mereka (ayat 2, 10, 13, 20). Kejahatan mereka akan segera terbongkar dan hukuman pun akan dijatuhkan Tuhan. Justru kejahatan mereka akan menimpa mereka sendiri (ayat 15).

2. Kedua, kalau kita marah kepada orang fasik, berarti kita akan menjadi sama dengan mereka (ayat 8), karena kemarahan yang tidak terkendali menjadi dosa. Dalam kemarahan yang seperti itu, sebenarnya kita secara tidak langsung menuduh Tuhan telah berpihak kepada orang jahat.


3. Tuhan adalah Allah yang adil. Ia akan bertindak menghukum orang fasik dan membela orang benar (ayat 5-6). Orang benar akan mewarisi bumi ini dan menikmati kesejahteraan (ayat 9, 11, 18-19). Tuhan tahu memelihara umat-Nya. Maka nasihat pemazmur kepada orang benar adalah tetap percaya kepada Tuhan dan menantikan Dia bertindak (ayat 3-4).

KEWAJIBAN

1. Percayalah kepada Tuhan

2. Lakukanlah yang baik

3. Diamlah di negeri (seperti Abraham mendiami negeri dan menetap, tidak pergi kemana-mana)

4. Berlakulah setia (tidak menyembah allah lain, karena Tuhanlah gembala yang aman bagi domba)

5. Bergembiralah karena Tuhan (Tuhan menjamin hidup mereka dengan memberikan semua yang diingini ataupun diminta mereka (Ayb. 22:22-26).

6. Serahkanlah hidupmu (segala rintangan yang nenek moyang Israel hadapi diserahkan kepada Tuhan: serahkan artinya bebankan kepada Tuhan, Mzm.22:9)

JANJI TUHAN

1. Tuhan memberikan apa yang diinginkan hatimu (Mzm. 34:11)

2. Ia akan bertindak (Mzm.22:32)

Selasa, 18 Agustus 2009

PENGHARAPAN


Kehidupan setiap orang tidak pernah lepas dari apa namanya pengharapan. Kalau seseorang tidak punya pengharapan lagi tentang apapun di dunia ini, maka dia disebut sebagai orang yang mati rohani. Allah memberikan roh (ruach) yaitu nafas kehidupan di dalam manusia, supaya dia bisa berhubungan dengan Allah. Orang-orang Kristen memiliki relasi dengan Allah supaya manusia itu tidak hilang pengharapan.

Kita tahu bahwa Allah dalam PL, merupakan Allah yang bertindak dengan otoritas yang tinggi. Masa itu disebut theokrasi, pemerintahan Allah yang langsung menyuruh para nabi untuk mengingatkan akan sanski dari hukum-hukum yang dilanggar oleh umat Israel. Kalau umat itu berdosa, langsung dihukum. Dimulai dari Adam dan Hawa di Taman Eden, mereka langsung diusir dari Taman Eden, peristiwa Air Bah, Sodom dan Gomora dimana manusia itu sudah memiliki moral yang rusak dan tidak menghargai lagi akan otoritas Allah.
Tetapi dari semua peristiwa dalam sejarah ini, apakah masih ada tersisa kata pengharapan di dalamnya? Sesungguhnya Allah itu unik, dan memang tidak akan terselami pikiran-Nya, amin?
Adam dan Hawa tidak dihukum mati secara jasmani (Kej. 3:2), tetapi justru Allah mencari dengan pertanyaan, "Dimanakah engkau"? (ay. 9). Disini Allah tidak mengucapkan kata yang akan memusnahkan tubuh mereka, padahal Allah bisa dengan satu kata untuk melenyapkan mereka dari muka bumi, dan menciptakan manusia baru lagi. Tetapi disini Allah konsisten dengan ciptaan-Nya, sekali Dia menciptakan, Alkitab mencatat, bahwa apa yang diciptakan-Nya, semuanya BAIK. Meskipun Iblis ingin berusaha ingin mengubah kata "baik" menjadi "jahat", tetapi bukti disini jelas bahwa "kebaikan" Allah bukanlah seperti apa yang dipikirkan oleh Iblis. Disini ada sebuah harapan buat Adam dan Hawa bahwa ternyata mereka masih diberikan kesempatan untuk hidup meskipun harus bekerja keras. Kalau kita baca kisah selanjutnya, maka dari keturunan mereka yaitu Kain dan Habel, meskipun Habel yang benar dan Kain yang berdosa membunuh adiknya, Kain tetap tidak dilenyapkan oleh Allah meskipun Allah mendengar "teriakan darah Habel" yang tidak berdosa.
Bahkan Allah berkata, "Barangsiapa membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." (Kej. 4:15). Kisah ini juga adalah untuk membuktikan bahwa Iblis yang bekerja pada Kain, tidak akan bisa mengalahkan kasih dan kebaikan Allah.
Berbicara tentang darah yang tidak berdosa, ini adalah sebuah pengharapan Mesianis, dimana dalam Ibrani 12:24, dikatakan bahwa darah Yesus "berbicara" lebih kuat dari pada darah Habel.

Keturunan selanjutnya yaitu Set sampai ke Henokh, merekalah yang kembali hidup "bergaul" dengan Allah (Kej. 5:22). Jadi selain pengharapan yang Allah berikan, terdapat suatu rencana dari Allah bahwa Dia akan tetap memakai manusia sebagai alat untuk berkomunikasi bagi diri-Nya sendiri. Allah ingin bergaul dengan manusia.
Dalam peristiwa air bah, Allah tetap menyisakan satu keluarga untuk menjadi sahabat dan pelaksana rencana Allah selanjutnya, yaitu Nuh. Seluruh ciptaan dimusnahkan Allah karena manusia sudah jahat dan mereka tidak lagi menyembah Allah. Waktu Nuh hidup bergaul dengan Allah (Kej. 6:9), dia tahu bahwa ada pengharapan dalam hidupnya dimana Allah akan tetap menyertainya.
Pengharapan itu semakin dipertegas Allah dengan mengadakan "perjanjian" kepada manusia, yaitu bahwa Allah tidak akan membuat hukuman air bah lagi dengan mengadakan satu tanda yaitu "pelangi". (Kej. 9:13). Allah mengadakan perjanjian setelah Nuh mendirikan mezbah, mempersembahkan korban bakaran dari binatang dan burung yang tidak haram. (Kej. 8:20). Hal ini sekali lagi berbicara tentang pengharapan Mesianis, dimana korban darah Yesus adalah korban bakaran yang tidak bercela.
Pengharapan yang diberikan oleh Allah terus dirasakan oleh orang-orang yang erat bergaul dengan Dia. Dari keturunan Sem, anak Nuh, lahirlah satu keturunan Terah yang memperanakkan Abram, yang kemudian kita kenal dengan nama Abraham. Satu perjanjian lagi dibuat Allah bagi manusia lewat Abraham, yaitu bahwa "Abraham akan menjadi bangsa yang besar.." (Kej. 12:2).
Allah pasti dalam memberikan janji-Nya, tetapi kadang pengharapan itu tidak langsung hari itu juga kita terima. Manusia diharapkan sabar dan tekun dalam bergaul dengan Dia. Sering manusia itu merasa jenuh menunggu apa yang diharapkan. Satu contoh adalah Sarai, isteri Abraham. Dia tidak memiliki pengharapan yang konstan. Dia mengabaikan pengharapan itu dengan mengusulkan Abraham untuk mendekati Hagar hambanya. Tetapi apakah Allah lalai dalam janji-Nya, apakah Allah menghancurkan harapan yang diberikan kepada Abraham? Tidak, pada tahun-tahun selanjutnya Allah menggenapinya dengan membuka kandungan Sarah dan lahirlah Ishak sebagai anak perjanjian tersebut. Disini jelas Allah ingin mengatakan kepada kita, bahwa Dia tidak pernah membuat manusia itu hidup tanpa pengharapan yang jelas.
Sebagai tanda perjanjian Allah dengan manusia, maka Allah memerintahkan Abraham untuk menyunat setiap anak laki-laki. Dalam proses sunat pasti ada darah yang tercurah. Ini juga berbicara tentang pengharapan Mesianis, dimana Yesus rela mencurahkan darah-Nya demi dosa manusia.
Akhirnya setelah suara kenabian tidak terdengar lagi selama sekian ratus tahun,dari masa PL kita tiba ke masa PB, muncullah seorang nabi namanya Yohanes Pembaptis. Dia berkata, "Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Pasti orang-orang yang mendengar ini akan kaget terutama orang-orang Yahudi yang sudah lama menantikan Mesias, apalagi mereka sedang dalam jajahan bangsa Romawi. Mereka ingin bebas dari pemerintahan Romawi, mereka sudah muak selama ini hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh bangsa kafir tersebut.
Saatnya sekarang bagi bangsa Israel untuk tidak lagi mempersembahkan korban bakaran di mezbah. Selama ratusan tahun mereka memelihara Taurat dan setia melakukan tata cara ibadah, meskipun mungkin hal itu dilakukan dengan cara yang tidak suci lagi. Tiba saatnya mereka untuk menghentikan itu semua. Allah ingin menutup tata cara ibadah seperti itu dengan gaya yang baru, yaitu hanya percaya kepada-Nya lewat iman, bukan lagi dengan formalitas ibadah. Untuk merubah Perjanjian Lama tersebut kepada Perjanjian Baru, harganya tidak murah. Prosesnya sangat mengguncang keberadaan agamawi bangsa Israel.
Allah yang menetapkan hukum atau aturan dalam Taurat PL, esensinya kini harus dirubah dengan kehadiran Allah sendiri melalui Yesus. Dalam PL kita lihat bahwa Allah ingin sekali bergaul dengan umat pilihan-Nya yang taat. Tetapi dalam PB, Dia bukan hanya ingin bergaul, tetapi ingin menjadi sahabat manusia. Maka Allah inkarnasi dalam daging, yaitu Tuhan Yesus, supaya Allah langsung bersosialisasi dengan semua manusia yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Sekarang Allah dalam Yesus melihat praktek hukum Taurat yang diberikan oleh Allah dan saatnya harus mengalami perubahan. Masalahnya bukan pada Allah, tetapi pada umat Israel yang mengembangkan aturan tersebut pada kepentingan diri sendiri, bukan pada kasih terhadap sesama. Mereka melakukan aturan taurat hanya pada sebatas formalitas bukan praktek kehidupannya. Tuhan Yesus terlalu banyak mengkritik orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang tidak lagi mempraktekkan taurat itu dalam kasih, tetapi hukuman.
Kita tahu proses pengubahan ini, tidak sulit, bahkan sampai harus mengorbankan darah Tuhan Yesus di kayu salib. Oleh sebab itu, darah Habel yang berteriak dari tanah, tanda sunat, dan korban bakaran, kini diganti dengan darah Tuhan Yesus sendiri. Pada sebagian orang pengharapan orang Israel yang selama ini mereka inginkan yaitu Mesias segera diterima, tetapi pada sebagian orang lagi pengharapan ini ditolak. Tetapi yang kita tahu bahwa Allah tidak pernah ingkar janji. Dia datang ke bumi karena janji kasih-Nya.
Dan satu hal yang sangat penting, yaitu bahwa dari semua janji yang diadakan oleh Allah dalam Perjanjian Lama, ternyata dalam Perjanjian Baru mengalami satu kemajuan. Yaitu bahwa janji dan pengharapan itu bukan lagi hanya milik oleh bangsa Israel, tetapi seluruh dunia, termasuk saudara dan saya. Mengapa Allah berfikir universal, mengapa keselamatan itu mencakup wilayah global.? Sekali lagi bahwa Allah tidak mau terlalu lama berurusan hanya dengan bangsa Israel, yang selama ini kata Alkitab sebagai bangsa yang "tegar tengkuk". Keras kepala, dibilangin tetapi tetap ngotot. Meskipun mereka sudah ditetapkan sebagai bangsa pilihan, tetapi Allah berfikir lain. Dia ingin agar nama-Nya disanjung dan disembah oleh seluruh umat manusia. Mengapa? Karena Allah pantas untuk disanjung, karena Dialah yang menciptakan bumi dan isinya, saudara dan saya. Dan Allah tidak mau lagi diam, karena umat manusia di muka bumi sudah berkembang pesat, dan kalau Allah, tidak membuka kesempatan itu bagi manusia lain, maka karya keselamatan itu hanya akan dirasakan oleh segelintir orang saja. Karena apa? Karena bangsa-bangsa lain sudah sibuk menyembah roh-roh berhala, patung-patung dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu satu Amanat yang tidak boleh dilupakan yaitu Amanat Agung, dalam Mat. 28:19-20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Maka akhirnya pengharapan itu sekarang kita sudah rasakan. Kita sudah percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Tetapi mengapa masa kini, masih tetap ada saja banyak orang Kristen yang masih ragu, apakah pengharapan itu sudah berhenti setelah Tuhan Yesus naik ke sorga? Tidak.
Pengharapan selanjutnya adalah pengharapan eskatologis (akhir zaman). Meskipun kita tidak melihat Yesus secara kasat mata, tetapi Roh Kudus yang Dia kirim, memampukan kita untuk beriman, bahwa Dia akan datang yang kali kedua untuk membawa kita masuk dalam Kerajaan Sorga, sesuai dengan apa yang telah dikatakan dalam Kis. 1:11, "Yesus ini, yang meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."
Inilah pengharapan kita. Kapan tanya sebagian orang? Seperti penggenapan janji Allah dalam PL, dimana waktunya tergantung Allah, demikian juga halnya dengan kedatangan Yesus kedua kali, itu adalah waktu Bapa. Kita hanya dituntut untuk setia, dan tekun melakukan perintah-perintahNya. Dan lihatlah apa yang dikatakan dalam Wahyu 21:10; 22:3-5. "Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah." "Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, 4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. 5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya."

Kesimpulan bahwa pengharapan yang dijanjikan oleh Allah dari awal penciptaan manusia, akan nyata sampai pada akhirnya, yaitu kedatangan-Nya yang kedua kali. Kita sebagai umat percaya, mungkin mengalami banyak persoalan hidup yang kita hadapi sehari-hari. Tetapi seperti masa-masa yang dialami oleh bangsa Israel, dimana terdapat banyak sekali mereka yang jatuh dalam dosa tanpa bertobat, maka saat ini juga, kita harus mau datang setiap saat kepada Tuhan Yesus minta ampun akan segala dosa-dosa supaya pada akhirnya pengharapan kita itu tidak sia-sia. Yakin dan percayalah bahwa bagi mereka yang setia pada akhirnya, Tuhan Yesus berjanji bahwa mereka akan berkumpul bersama-sama satu perjamuan suci di Kerajaan Sorga. Amin.

Rabu, 24 September 2008

KESEMBUHAN ILAHI MENURUT MATIUS 8:16-17

HAKEKAT KESEMBUHAN ILAHI MENURUT INJIL MATIUS 8:16-17

1. Pengertian dari Kesembuhan Ilahi Menurut Matius 8:16-17.

Kata “kesembuhan” yang artinya “perihal sembuh”, berasal dari akar kata “sembuh” artinya “menjadi sehat kembali”, “pulih” dari sakit penyakit. Sedangkan kata “ilahi” artinya mempunyai sifat-sifat Tuhan. Dalam bahasa Ibrani, kata “kesembuhan” disebut arukha yang secara harfiah artinya daging yang baru tumbuh pada tempat luka dan secara kiasan dipakai untuk penyembuhan dan pembaharuan Israel (Yer. 8:22; 30:17; 33:6). Kata Ibrani yang lain untuk “kesembuhan” yaitu rij’ ut, dari kata rafa yang artinya “menjahit bersama”, “memperbaiki”.
Dalam Yer. 8:15, menunjuk pada bangsa Israel yang menderita sakit akibat dosa dan sedang mengharapkan kesembuhan.3 H. L. Senduk dalam bukunya Kesembuhan Mujizat mengatakan bahwa:
“Kesembuhan Ilahi adalah mujizat Allah yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kesembuhan ini merupakan jalan kesembuhan yang Allah berikan kepada semua orang yang mau percaya dan menurut kehendakNya seperti diwahyukan dalam Alkitab. Inilah kesembuhan yang paling cepat, paling aman dan sempurna, tanpa bayaran apa-apa. Inilah kesembuhan untuk tubuh, jiwa dan roh; kesembuhan yang total, yang sekaligus membawa hidup baru yang penuh dengan kebahagiaan dan berkat Allah.4
Pelayanan kesembuhan adalah sebuah aspek kunci dari Injil Kerajaan Allah. Kebenaran yang besar bahwa Allah adalah Allah yang menyembuhkan bergerak seperti benang merah dari perjanjian dalam seluruh Alkitab yang memberikan kesaksian tentang penyediaan dari Allah untuk kesembuhan umat manusia.5 Kesembuhan ilahi merupakan suatu mujizat. Terdapat banyak cara yang berbeda-beda untuk mempelajari mujizat, sesuai dengan karakter dari pandangan. Kaum rasionalis membantah dan berusaha keras untuk menghilangkan mujizat; golongan apologis membela dan berusaha untuk membuktikannya; orang-orang percaya mempelajarinya karena dapat dipelajari; dan para pemuja merenungi dan memujanya.6

Sementara A. van de Beek mengatakan bahwa:
“Mujizat ialah peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan berdasarkan hal-hal yang lazim terjadi dalam dunia ini sebab penjelasannya tidak dapat didasarkan pada ilmu alam, ilmu jiwa, atau ilmu apa pun juga. Bukan karena kurangnya pengetahuan kita mengapa peristiwa-peristiwa semacam itu tidak dapat kita jelaskan, melainkan karena keyakinan kita akan adanya kuat kuasa lain yang berperan di dalamnya dan yang patut menjadi perhatian kita. Suatu kuasa yang tidak dapat dipersamakan dengan daya listrik, yang sebelum tersentuh oleh kekuatan itu merupakan suatu rahasia yang terselubung, tetapi yang akhirnya diterima sebagai salah satu kekuatan alami. Mujizat tidak membawa perhatian kita pada kekuatan alam yang baru terungkap, tetapi pada peristiwa-peristiwa yang justru bertentangan dengan kekuatan alam itu.”7
Kesembuhan menurut Injil Matius 8:16-17 merupakan kesembuhan yang terjadi atas kekuatan Yesus sebagai Allah yang penuh kuasa, yang sebelumnya sudah di nubuatkan oleh nabi Yesaya yang dinyatakan sebagai jati diri Hamba Tuhan yang menderita.8

Dari pengertian-pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kesembuhan ilahi adalah kesembuhan oleh kuasa dalam Tuhan Yesus yang mampu memberikan kesempurnaan fisik bagi setiap orang yang dikehendakiNya, bertentangan dengan hukum alam dan akal manusia.

2. Latar Belakang Konteks Matius 8:16-17

Teks yang akan dibahas adalah Injil Matius 8:16-17. Konteks perikop sebelumnya menceritakan dua kisah mujizat kesembuhan yang telah dilakukan Tuhan Yesus yaitu penyembuhan sakit kusta dan hamba seorang perwira di Kapernaum. Menurut Lenski mujizat kesembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus dalam pasal 8 ini bukanlah suatu koleksi yang diambil dari berbagai periode pelayanan Tuhan Yesus melainkan suatu seri tindakan ilahi yang diberikan kepada masing-masing orang setelah khotbah di bukit.9
Mujizat yang diceritakan dalam pasal 8:16-17 ini adalah mujizat yang terakhir pada hari itu, dan terjadi menjelang malam hari. Cerita Matius itu pendek, ia tidak menyebut Sabat, ia hanya mengatakan bahwa menjelang malam (menjelang gelap penuh) orang sakit dibawa.10 Menurut hukum hari Sabat, maka orang dilarang mengadakan penyembuhan, karena pada hari Sabat hanya diperbolehkan melakukan pencegahan-pencegahan agar penyakit seseorang tidak tambah jelek. Itulah sebabnya maka orang banyak yang disebut dalam perikop ini menunggu sampai menjelang malam untuk membawa yang sakit kepada Yesus. Malam hari adalah waktu yang seharusnya tenang, di mana semua pekerjaan perlu ditinggalkan. Tetapi pada hari Sabat ini Yesus tidak merasakan hal itu. Pada waktu Ia seharusnya istirahat, Ia malah dikerumuni oleh orang banyak dengan segala keperluan dan kebutuhan manusiawinya. Dan tanpa perasaan lelah atau perasaan mementingkan diri sendiri, Yesus melayani orang banyak itu dengan kemurahan ilahi-Nya. Jadi selama ada jiwa yang membutuhkan, maka Yesus tidak pernah istirahat. Kejadian ini mengingatkan Matius akan kata-kata nabi Yesaya, yang mengatakan, bahwa Hamba Tuhan itulah yang memikul kelemahan dan mengangkut dosa-dosa kita.11

Tafsiran Teks Injil Matius 8:16-17.

Teks Yunani
Opsias de genomenes prosenegkan auto daimonesomenous pollous kai esebalen ta pneumata logo kai pantas tous kakos ekhontas etherapeusen
hopos plerothe to rethen dia Esaiou tou prophetou legontos autos tas artheneias emon elaben kai tas nosous ebastasen

Teks LAI
16 Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.
17 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."

Teks KJV
16 When the even was come, they brought unto him many that were possessed with devils: and he cast out the spirits with his word, and healed all that were sick:
17 That it might be fulfilled which was spoken by Esaias the prophet, saying, Himself took our infirmities, and bare our sicknesses.

Ayat 16
Matius di sini mengulangi pasal 4:24, mengenai orang yang kerasukan setan dan orang-orang yang menderita sakit. Markus maupun Lukas menceritakan penyembuhan dari kerasukan setan sebelum Yesus pergi rumah ke Petrus. Di sini Matius menceritakan bahwa Yesus mengusir roh-roh itu. Kata mengusir, evxe,balen (eksebalen), dipakai dalam bentuk aorist, yang menjelaskan pekerjaan yang sudah dilakukan dalam bentuk lampau. Alkitab versi NIV lebih tepat menerjemahkannya dengan kata, “drove out” dari akar kata “to drive out”. Pengusiran roh-roh jahat ini dilakukan Yesus dengan “sepatah kata” (lo,gw, logo) dalam bentuk dativ singular masculine noun yang menunjukkan kata benda tunggal (a word, NIV), seperti dalam Markus 1:25 dan Lukas 4:35 dengan hanya mengucapkan kata “diam”, phimoo “tutup mulutmu” (hold thy peace, KJV). Berbeda sekali dengan mantera yang menggunakan perkataan-perkataan yang panjang, yang pada waktu itu seringkali dipergunakan untuk melawan roh-roh jahat. 12
Kemudian dikatakan bahwa “Yesus menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.” Terjemahan Yunani untuk kata ‘menyembuhkan’ dipakai kata (etherapeusen, healed),13 bentuk aorist yang menjelaskan suatu pekerjaan yang sudah dilakukan dalam bentuk lampau. Yesus dalam pelayanannya menyembuhkan orang-orang secara jasmani dan dalam ayat ini diceritakan bahwa tidak ada satu masalah pun yang tidak dipulihkan oleh Tuhan Yesus secara sempurna.14

Ayat 17
Matius menceritakan kisah pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan sakit penyakit pada ayat 16 supaya “digenapi” apa yang sudah ditulis oleh nabi Yesaya yang berbunyi “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah” (53:4). “Hal itu terjadi supaya genaplah” o[pwj plhrwqh, (hopos plerote). Kata “genaplah”, plerote dipakai dalam bentuk aorist passive, artinya pekerjaan yang sudah dilakukan dalam bentuk kata kerja pasif. Jadi kata “genaplah” diterjemahkan dengan kata “digenapi”.

Yesaya 53:4

Teks Ibrani
´äkën Hóläyëºnû hû´ näSä´ ûmak´öbêºnû sübäläm wa´ánaºHnû Hášabnuºhû nägûª` muKKË ´élöhîm ûmü`unnè

Teks KJV
Surely he hath borne our griefs, and carried our sorrows: yet we did esteem him stricken, smitten of God, and afflicted.

“Tetapi sesungguhnya, penyakit (malady), (Hóläyëºnû kholee, griefs, KJV) kitalah yang ditanggungNya (näSä´) dan kesengsaraan kita (ûmak´öbêºnû makob, sorrow, KJV) yang dipikulNya.” Kholee berasal dari kata chalah, yang artinya menjadi lemah, sakit, sengsara. Di dalam kitab Ulangan 7:15 berbunyi, “TUHAN akan menjauhkan segala penyakit (kholee) dari padamu.” Kata yang sama juga dipergunakan di dalam Ulangan 28:61; 1 Raj. 17:17; 2 Raj. 1:2; 8:8. Sedangkan kata makob diterjemahkan menjadi penderitaan di dalam Ayub 33:19: “Dengan penderitaan (makob) ia ditegur di tempat tidurnya.” Dalam Yer. 51:8, “Ambillah balsam untuk lukanya (makob).” 15 Teks dari LXX menerjemahkan teks Ibraninya secara longgar dan menafsirkan teksnya sebagai rujukan tentang dosa.16 Leupold dalam bukunya Exposition of Isaiah mengatakan bahwa kata griefs sesungguhnya berarti sicknesses, yang digunakan dengan arti sakit penyakit yang bermacam-macam.17

Teks LXX

outos tas hamartias hemon pherei kai peri emon odunatai kai emeis elogisametha auton einai en pono kai en plege kai en kakosei

Teks KJV

He bears our sins, and is pained for us: yet we accounted him to be in trouble, and in suffering, and in affliction.

Dalam teks LXX pemakaian kata hamartias (sins, KJV) mengindikasikan bahwa cerita Yesus dalam Yes. 53:4 bukan mengenai sakit penyakit tetapi dosa, artinya bahwa di kayu salib Tuhan Yesus menanggung dosa manusia. Sementara kata Yunani yang Matius pakai di sini untuk “memikul” dan “menanggung”, yaitu e;laben (elaben) dan evba,stasen (ebastazsen). Kedua kata ini memakai bentuk aorist, dengan terjemahan took away dan bare yang dapat berarti “menjauhkan, membawa”, “memikul.”18 segala kelemahan (infirmities) dan sakit penyakit (sicknesses). Dalam LXX kata kakw,sei (kakosei), diterjemahkan affliction yang artinya penderitaan atau tekanan. Sedangkan Matius menerjemahkannya dengan kata no,souj (nosous), sicknesses. Matius mempergunakan ayat Yesaya 53:4 dengan cara yang sedikit bebas dan cara itu biasa pada abad yang pertama yang secara ilmiah disebut cara midrasy pesyer.19 Pendapat Matius tidak menyeleweng dari kebenaran, sebab penderitaan Kristus ganti kita memberi hak kepada Kristus untuk menjauhkan penderitaan kita,20 termasuk sakit penyakit. Ruthven mempertegas pendapat Matius di atas dengan mengatakan:
“Mat. 8:17 menyajikan iman orang-orang yang disembuhkan untuk menunjukkan bahwa penyembuhan merupakan beberapa cara yang dijamin dalam penebusan Kristus, yang ditanggung di atas kayu salib, bukan dosa saja tetapi juga sakit penyakit.”21

Selanjutnya Menzies mengatakan bahwa beberapa cendekiawan telah menyimpulkan bahwa teks tersebut hanyalah sebuah kiasan yang merujuk pada cara-cara bagaimana sang Mesias akan menanggung dosa-dosa kita dan bahwa kaitan apa pun dengan kesembuhan fisik bukanlah merupakan bagian dari maksud Yesaya yang sebenarnya.22 Namun dia sendiri menyangkal pandangan tersebut dengan memunculkan tiga poin penting yaitu:
Konteksnya tak diragukan lagi berpusat pada penyembuhan fisik (Mat. 8:16) dan menampilkan peristiwa itu sebagai penggenapan dari Yesaya 53:4.
Penggunaan kata-kata “kelemahan” (asthenia) dan “penyakit” (nosos) dalam Matius 8:17 jelas menunjuk pada penyembuhan fisik. Istilah “nosos” muncul dalam Matius 4:23, 24; 8:17; 9:35; 10:1 dan selalu merujuk pada kemalangan jasmaniah.
Perbandingan dari penyebutan teks Yesaya 53:4 dengan LXX diharuskan. Matius tidak mengikuti terjemahan Yunani dari teks Ibraninya seperti yang umumnya digunakan dalam rumah-rumah ibadat Helenistik Yahudi; sebaliknya dia menawarkan pemahamannya sendiri terhadap teks Ibrani tersebut. Dengan kata lain, tanpa melihat bagaimana Yesaya memahami Yesaya 53:4, Matius memahaminya dengan latar belakang Mesias, dan ia menerapkannya pada pelayanan penyembuhan Yesus. Kalau Matius hanya mengikuti apa yang ada dalam LXX, dia tentu tidak mengaitkannya dengan penyembuhan jasmani.23

Untuk mendukung pandangan ini, Marvin R. Vincent mengatakan:
“This translation (to bear) is correct. The word does not mean “he took away”, but “he bore” as a burden laid upon him. This passage is the corner-stone of the faith-cure theory, which claims that the atonement of Christ includes provision for ‘bodily’ no less than for ‘spiritual’ healing, and therefore insist on translating ‘took away’. Matthew may be presume to have understood the sense of passage he was citing from Isaiah, and he could have used no word more inadequate to express his meaning, if that meaning had been that Christ “took away” infirmities.”24

Kata take away (Ibr. nasa), artinya menjauhkan. Vincent disini tidak sedang menafsirkan fungsi Yesus untuk sekedar menjauhkan penyakit manusia, tetapi dia sendiri menanggungnya, menjadi bebannya di kayu salib. Lenski mengatakan, “Messiah is our substitute. Loaded down with our terrible burden, he appears as the suffering and dying Messiah.”25
Kebanyakan peneliti Alkitab setuju bahwa Yesaya 53 merupakan nubuat mengenai penyaliban Yesus Kristus, dan mengenai apa yang artinya kematian Kristus itu bagi umat manusia maupun bagi Allah. Di dalam bagian pasal ini yang menonjol ialah dua masalah yang dihadapi manusia yaitu masalah dosa dan penyakit. Anak Allah harus mengalami kesengsaraan dan kesakitan dan mati, karena yang ditanggungNya ialah penyakit manusia; dan kesengsaraan atau nyeri manusialah yang dipikulNya (ay. 4). Ia ditikam oleh karena pemberontakan manusia, Ia diremukkan dan menerima ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi manusia, dan oleh bilur-bilurNya manusia memperoleh kesembuhan (ay. 5).26
Kebanyakan teolog mengartikan kutipan Yesaya 53:4 secara rohani. Perjanjian Baru secara keseluruhan menghubungkan ayat-ayat tentang Hamba yang menderita kepada kematian Kristus yang menebus. Dikatakan bahwa penyembuhan-penyembuhan itu dilakukan bukanlah hanya karena belas kasihan, tapi adalah bagian dari serangan Mesias terhadap segala macam hal yang jahat dalam dunia kepunyaan Allah. Ayat ini tidak berarti bahwa Yesus memindahkan kelemahan dan penyakit kita ke dalam diriNya, tetapi membinasakannya. Ini adalah pengalaman pendahuluan dari apa yang akan dialami dalam zaman baru (Why. 21:4).27
Berkaitan dengan hal ini, Grudem dalam bukunya Systematic Theology, menemukan empat28 kebutuhan yang diperoleh manusia dari kematian Tuhan Yesus di kayu salib, antara lain:

Pengorbanan.
Kristus mati sebagai korban bagi kita, yang seharusnya hukuman itu kita tanggung akibat dosa-dosa kita. (Ibr. 9:26)
Pendamaian
Kristus mati bagi kita untuk melenyapkan murka Allah yang seharusnya tertimpa bagi kita. (1 Yoh. 4:10).
Rekonsiliasi
Kristus merupakan alat rekonsiliasi antara manusia yang sudah terpisah hubungan dengan Allah akibat dosa. (2 Kor. 5:18-19).
Penebusan
Manusia yang berdosa berada dalam ikatan Iblis. Oleh sebab itu perlu seseorang untuk melepaskan kita dari ikatan tersebut. Ketika kita berbicara tentang penebusan, maka terdapat suatu gagasan mengenai “tebusan”. Tebusan adalah harga yang dibayar untuk menebus seseorang dari suatu ikatan. Markus 10:45 mengatakan bahwa Yesus sendiri yang menjadi “tebusan bagi banyak orang.”

Selanjutnya J.J. de Heer mengatakan bahwa dalam Yesaya 53:4 sebenarnya ditekankan “penderitaan Mesias ganti kita.” Matius menekankan di sini suatu hal yang lain, yaitu bahwa Mesias “menjauhkan penderitaan kita”. Petrus menambahkan komentar yang diilhami Roh ketika ia menulis, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh.” (1 Ptr. 2:24, Yes. 53:5). Kesembuhan ini dimaksudkan untuk memberikan kelepasan yang sempurna. Maksudnya ialah agar dapat menang atas dosa maupun penyakit dalam segala bentuknya. Kristus, melalui kematian dan kebangkitanNya sudah menyediakan bagi manusia penebusan yang sempurna.29 G. C. D. Howley yang mengatakan:
“Jesus’ miracles of healing were not done merely by a word of power, but rather by an act of self-identification with the diseased. The passage is an answer to the claim that the christian can demand physical healing of right as part of the work of Christ on the cross.”30

Howley menegaskan bahwa kesembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus bukan saja dengan perkataan yang penuh kuasa tetapi bertindak terhadap setiap jenis penyakit tersebut. Pada waktu Ia seharusnya istirahat, Ia malah sibuk melayani orang-orang yang menderita sakit dan kerasukan roh-roh jahat. Hal ini dilakukan dengan kemurahan, perasaan belas kasihan, tanpa lelah dan mementingkan diri sendiri. Tindakan Yesus ini merupakan teladan yang seharusnya diikuti oleh para pelayan Tuhan, untuk selalu menyediakan diri selama masih ada orang yang memerlukan pertolongan dan penyembuhan. Para pengikut Yesus setiap kali pelayanan, mereka memperoleh kekuatan baru; mereka dimampukan untuk melakukannya melebihi kekuatan yang mereka miliki sendiri.31
Untuk mengingat pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib bagi keselamatan umat manusia, maka gereja dalam ibadahnya mengadakan sakramen Perjamuan Kudus. Hin Hong Khoo mengatakan bahwa dalam 1 Kor. 11:23-32, terdapat indikasi yang jelas tentang partisipasi yang benar dari Perjamuan Kudus akan membawa kesembuhan dan kesehatan. Paulus mengetahui bahwa partisipasi yang salah dalam Perjamuan Kudus membawa penyakit dan mati lebih awal (ay.30). Ini menyatakan bahwa partisipasi yang benar akan meninggikan kesehatan yang baik.32
Pandangan ini sesuai dengan buah pelayanan yang terjadi di salah satu gereja di Jakarta yang mengaitkan sakramen perjamuan kudus dengan mujizat kesembuhan. Dalam salah satu buletinnya ditulis kesaksian seorang ibu sembuh dari sakit diabetes yang parah dan bebas dari lumpuh dan seorang lagi sembuh dari virus otak, setelah didoakan dalam nama Tuhan Yesus dan diberikan makan dan minum perjamuan kudus.
Berdasarkan pemahaman dari kajian teori dan teologis diatas, penulis menemukan dua dimensi penting dalam memahami kesembuhan ilahi menurut Injil Matius 8:16-17 yaitu dimensi karya salib sebagai sumber kesembuhan dan karya salib mengalahkan kuasa iblis atas penyakit. Dimensi ini penting sekali untuk menjawab kekeliruan pemahaman kesembuhan ilahi pada masa kini, serta untuk menjawab para teolog yang tidak percaya lagi akan mujizat kesembuhan.

Pernah terjadi para ahli yang skeptis mengambil jalan keluar menghapuskan semua mujizat dari Injil, karena mereka menganggap mujizat-mujizat itu tidak masuk akal, dan tidak mungkin terjadi. Mereka menggambarkan Yesus sebagai orang yang cocok dengan pandangan mereka yang sekular. Namun para ahli akhir-akhir ini menyadari bahwa pandangan tersebut tidak benar. France dalam bukunya Yesus Sang Radikal mengatakan bahwa:
“Sebagian besar ajaran Yesus didasarkan atas mujizat-mujizatNya, dan tidak ada artinya tanpanya. Pemberitaan firman dan perbuatan mujizat tidak dapat dipisahkan. Kedua-duanya secara bersama-sama merupakan unsur pokok kisah tentang pelayanan Yesus sebagai serangan total terhadap kuasa-kuasa kejahatan. Apa pun perbedaan yang ditekankan para ahli modern dalam potret mereka tentang Yesus, namun dalam satu hal mereka sepakat, yakni Yesus menjadi termasyur terutama berkat mujizat-mujizat yang dikerjakanNya. Malahan polemik orang Yahudi yang menentang Yesus memperkuat hal itu. Mereka tidak meragukan mujizat-mujizatNya, tetapi menyatakan bahwa Ia membuatnya dengan kuasa sihir.”33
Yesus adalah Tuhan. Ketika orang-orang Kristen purba mengaku Yesus adalah Tuhan, mereka telah mengakui keilahian Yesus yang asasi itu, suatu tempat yang menurut paham mereka tak seorang pun bisa ambil bagian. Pengakuan inilah yang benar dan utama.34 Markus dan Matius dengan caranya sendiri-sendiri mengaitkan Yesus sebagai Tuhan dengan kemampuanNya untuk membuat mujizat-mujizat.35
Berikut ini penulis akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan dimensi karya salib sebagai sumber kesembuhan dan dimensi karya salib mengalahkan kuasa iblis. Berangkat dari pembahasan ini, penulis akan menjadikan beberapa indikator dalam Pemahaman Kesembuhan Ilahi Menurut Injil Matius 8:16-17.

2.1. Dimensi Karya Salib Sebagai Sumber Kesembuhan

Karya salib berbicara tentang pendamaian. Pendamaian berarti memenuhi tuntutan atau melunaskan murka. Murka Allah yang benar terhadap dosa telah dibayar dan dilunasi melalui pekerjaan penebusan Kristus di kayu salib, sebab “Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” (1 Yoh. 2:2). Allah tidak akan pernah tidak mengacuhkan dosa, tidak juga Dia dapat dengan mudah mengabaikannya, sebab Dia kudus. Dosa harus dibayar dan dihapuskan oleh kematian, apabila berkat Allah hendak diterima.
Hasil karya Kristus sebagai suatu pendamaian sangat memenuhi hukuman Allah terhadap dosa sehingga Dia tidak hanya dapat mengampuni orang berdosa tetapi dapat membebaskan yang paling bersalah. Oleh karena itu pendamaian Kristus, memungkinkan setiap orang berdosa untuk datang kepada Allah dan berdamai denganNya. Ini telah membuka jalan masuk ke hadiratNya, sehingga Dia dapat didekati dengan keberanian.36
Menzies secara khusus membahas masalah pendamaian yang menjadi perdebatan para teolog, apakah tema ini hanya membahas masalah keselamatan, atau juga mengenai kesembuhan fisik. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa:
“Mereka yang menentang doktrin tersebut cenderung untuk memfokuskan secara lebih sempit pada serangkaian “pendamaian” yang semantik (hanya didasarkan pada permasalahan bahasa) dan kata-kata yang berkaitan dengan Alkitab. Dengan begitu mereka biasanya mendefinisikan pendamaian sebagai “menutupi dosa” dan menafsirkan signifikansi dari kayu salib dalam istilah-istilah forensik. Di atas kayu salib, Yesus menanggung sendiri dosa dan kesalahan dunia. Dia menanggung sendiri semua hukuman yang seharusnya kita semua tanggung. Karena itu, pendamaian erat kaitannya dengan penghapusan masalah dosa. Kalau seseorang memandang pendamaian dengan cara demikian, hubungannya dengan penyembuhan fisik dengan mudah bisa dihilangkan. Dan pemahaman yang terbatas seperti itu tidak adil terhadap kesaksian Alkitab atau pemahaman historis dari gereja.”37

Karya salib juga berbicara tentang kasih Allah kepada kita dan sekaligus merupakan ukuran kasih yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama, karena kasih Kristus terangkum dalam salib. Salib adalah keseluruhan Kristus, keseluruhan kasih.38 Hukum menuntut kematian sebagai hukuman atas dosa, dan pelakunya harus mati kecuali kalau seseorang dengan rela menggantikan dia, dan penggantinya itu harus orang yang tidak berdosa. Yesus Kristus, Anak Domba Allah, didorong oleh kasih yang sangat besar rela untuk mati. Dan Allah sangat mengasihi isi dunia sehingga dengan rela menyerahkan Anak-Nya untuk mati di kayu salib. Kasih Yesus sudah pasti dirasakan oleh banyak orang selama masa pelayananNya di bumi. Kitab Injil sungguh banyak menceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan banyak orang didorong oleh belas kasihan.
Jawaban Yesus yang pertama dan utama ketika mendekati orang yang mengidap penyakit kusta adalah belas kasihan (Mrk. 1:42-42). Hukum Yahudi mengatakan, bahwa Yesus harus menghindarkan diri dari sentuhan orang sakit kusta; kalau penderita kusta itu mendekati sampai jarak 2 meter, maka Yesus akan dianggap ternajiskan. Tetapi Yesus justru malah mengulurkan tanganNya dan menjamah penderita kusta tadi.39

Kalau tindakan Yesus itu dilihat dari sudut ilmu kedokteran pada waktu itu, maka Yesus telah dianggap melakukan tindakan yang penuh resiko ketularan penyakit yang berbahaya. Tapi Yesus tetap mengulurkan tanganNya dan menjamah si sakit.
Bagi Yesus hanya ada satu kewajiban saja dalam hidup ini, yaitu kewajiban menolong. BagiNya hanya ada satu hukum saja, yaitu hukum kasih. Hukum kasih itulah yang memberanikan Yesus menanggung segala resiko jasmaniah. Roh-Nya tergerak oleh belas kasihan takala Ia melihat arak-arakan yang mengiring jenazah anak tunggal seorang janda, orang lumpuh, dan orang cacat; Ia tidak menjauhi penderitaan mereka. Ia tidak memberikan kepada mereka penjelasan teologis; Ia ‘menyembuhkan’ mereka.40
2.2. Dimensi Karya Salib Mengalahkan Kuasa Iblis
Dalam Kitab Injil terdapat banyak ayat yang menjelaskan pelayanan kesembuhan Tuhan Yesus yang berhubungan dengan roh-roh jahat. “Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.” (Mrk. 8:16). Perlu diperhatikan bahwa orang banyak itu datang kepada Yesus untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai penyakit, tetapi banyak di antara mereka justru dilepaskan dari roh-roh jahat. Jelas orang-orang itu tidak menyadari bahwa sebagian dari penyakit mereka disebabkan oleh roh-roh jahat.41 Ketika Yesus disalibkan, Dia melucuti penguasa-penguasa di dunia ini. Iblis disebut sebagai penguasa dunia ini. Pada saat kematian Yesus sudah dekat, Dia berkata, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar” (Yoh. 12:31). Kematian Yesus merupakan penentu kekalahan penguasa dunia ini, yaitu Iblis. Arti kata Iblis sendiri adalah “musuh atau penuduh.” Di dalam kematian Yesus, Allah “menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya di kayu salib.” (Kol. 2:14).42
Sakit penyakit jasmani merupakan salah satu pekerjaan setan terhadap manusia. Hal ini lebih jelas dipaparkan oleh Derek Prince yang mengatakan bahwa:
“Setan dapat menjadi penyebab hampir semua jenis gangguan jasmani dan penyakit. Tetapi untuk dapat membedakan antara gangguan jasmani dan penyakit yang disebabkan oleh setan dengan yang merupakan gangguan jasmani murni, dibutuhkan suatu kepekaan. Pengertian kita yang terbatas mungkin akan membuat kita sulit membayangkan bagaimana suatu makhluk roh seperti setan dapat mendiami suatu wadah ragawi yang antara lain berupa tubuh jasmani manusia. Tetapi, kenyataannya hal itulah yang sering disebutkan dalam Alkitab.”
Kitab-kitab Injil yang mencatat bahwa Yesus menyembuhkan orang bisu, tuli dan buta dengan cara mengusir setan-setan yang ada dalam diri orang-orang tersebut (Mat. 9:32-33, 12:22; Luk. 11:14).
Di kayu salib, Yesus telah membayar sepenuhnya hukuman terakhir untuk semua dosa seluruh umat manusia. Ia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Pengorbanan Yesus untuk manusia merupakan satu-satunya dasar yang dapat dipakai untuk menuntut hak setiap orang atas kelepasan yang sempurna dari setiap kekuatan setan atau Iblis yang menyerang.
Cara Kristus mengalahkan kematian dan penyakit adalah dengan menanggungnya sendiri dan memikulnya sampai ke kubur. Penghukuman Allah atas dosa yang mengizinkan adanya penyakit ditanggung oleh Yesus ketika Dia menderita dan mati.43 Oleh sebab itu tidak ada hidup yang berkenan kepada Allah kecuali hidup dalam Kristus dan melalui Dia. Oleh sebab itu, karena Allah yang berinisiatif untuk berdamai dengan manusia, maka seharusnya ada respons dari manusia untuk berdamai denganNya dengan melakukan beberapa hal yaitu percaya kepada kuasa Tuhan Yesus, bertobat, bersedia menerima pengampunan dari Tuhan Yesus, giat membina hubungan dengan Bapa lewat doa dan tidak terlibat okultisme yang merupakan sarana Iblis untuk merusak tubuh. Semuanya ini merupakan aspek yang erat sekali kaitannya dengan kesembuhan.

Melalui penjelasan diatas penulis menemukan lima indikator penting sebagai instrumen pemahaman mengenai kesembuhan ilahi menurut Matius 8:16-17, yaitu:

a. Percaya Kepada Kuasa Tuhan Yesus

Karya keselamatan Kristus berkaitan dengan tubuh sama halnya dengan jiwa. Pada waktu orang-orang Kristen modern memakai kata kerja “menyelamatkan” dan berbicara tentang orang-orang yang diselamatkan, mereka hampir selalu menunjuk kepada proses rohani, sedangkan dalam kitab-kitab Injil, kata kerja ini selalu menunjukkan kesembuhan tubuh.44 Misalnya, perempuan yang menderita pendarahan berkata kepada dirinya sendiri, “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh” (Mat. 9:21), dan Yesus berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat. 9:22). Matius menambahkan, “maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.”
Pelayanan kesembuhan sudah dilakukan Tuhan Yesus selama pelayananNya di bumi. Dalam Injil ditemukan banyak pasal dan ayat yang menceritakan perbuatan ajaib yang penuh kuasa, yang belum pernah dilakukan oleh orang lain. Karena Injil adalah Firman Allah, maka seharusnya umat Tuhan tetap mempercayai cara atau metode yang Tuhan Yesus lakukan dalam pelayanan kesembuhan seperti yang tertulis dalam Alkitab, bukan dari sumber kitab yang lain.
Nama Yesus berkuasa dalam penyembuhan di pelayanan gereja, karena hanya dalam namaNyalah, Alkitab mencatat bahwa yang sakit disembuhkan, yang terikat setan dilepaskan. Kata “Kristus” berasal dari bahasa Yunani, Kristo yang artinya “yang diurapi”. Kata yang serumpun dengan ini ialah Chrio yang artinya saling berhubungan, melumasi atau mengurapi dengan minyak, mentahbiskan, mengurapi.45
Berita dari gereja mula-mula adalah berita yang sederhana; mereka mengabarkan dan mengajarkan tentang Yesus Kristus (Kis 5:42). Berita mereka tidak dipersulit oleh penekanan-penekanan denominasi. Tidak juga dilemahkan dan dikompromikan dengan pengajaran modern. Pengajaran mereka tidak disusun dari teori-teori teologia. Mereka tidak mengajarkan suatu doktrin; mereka hanya memperkenalkan seorang Pribadi. Mereka tidak mengajarkan "harfiah hukum taurat" yang membunuh. Mereka melayani Roh dari Firman, yang memberi hidup (2 Kor 3:6).
Saat mereka mengajarkan Yesus Kristus, mereka mengagungkanNya sebagai Tuhan Yang Maha Besar (Kis 2:36). Mereka memperkenal-kanNya sebagai satu-satunya Juru Selamat (Kis 2:38; 4:12). Mereka menampilkanNya sebagai Penyembuh yang Agung (Kis 3:6-8,16). Mereka menampilkanNya sebagai Pembaptis dalam Roh Kudus (Kis 2:38). Mereka dengan terus menerus dan dengan hati yang sungguh-sungguh mengagungkanNya dalam khotbah dan pengajaran mereka,46 dan dalam suasana iman yang diciptakan oleh Roh Kudus dan Firman Tuhan, mujizat mulai bekerja. “Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat, keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang disembuhkan. Maka sangat besarlah sukacita dalam kota itu (Kis. 8:7-8).47
Salah satu faktor yang menentukan kesembuhan adalah ukuran iman yang mengaktifkan kuasa Allah. Kuasa dan kemampuan Yesus itu konstan. Baik Ia berada di Yerusalem, Kapernaum, Yerikho atau Nazaret, Yesus tidak berubah. Kuasa kesembuhanNya mengalir ke orang-orang, namun hasilnya berbeda. Di Kapernaum, setiap orang disembuhkan karena adanya tingkat iman yang tinggi, sementara hanya kesembuhan-kesembuhan kecil dilaporkan terjadi di Nazaret karena ketidakpercayaan orang-orang. Ketika wanita yang sakit pendarahan menjamah jumbai Yesus, Ia segera bertanya, “Siapa yang menjamah Aku?” (Mrk. 5:31). Disini jelas bahwa Yesus sedang bergerak sebagai manusia biasa. Ia tidak tahu siapa yang menjamah Dia. Siapa pun di antara kerumunan orang dapat menjamah Yesus. KuasaNya tersedia bagi semua orang. Pertanyaan, “Siapa yang menjamah Aku?” dapat diartikan, “Siapa yang mengaktifkan kuasaKu?” Artinya bahwa Allah dapat mencurahkan kuasaNya dalam ukuran yang besar, namun kecuali seseorang mengaktifkan imannya sendiri dengan merenungkan dan mempercayai janji-janji Allah yang spesifik, hanya sedikit yang dapat dicapai.48
Smith Wigglesworth adalah seorang hamba Tuhan yang mengadakan pelayanan kuasa dengan dahsyat. Dalam kesaksiannya, ia mengatakan:
“Saya puas bahwa kuasa itu berada dalam pengenalan akan darahNya dan kekudusanNya. Saya puas karena selama saya mengenalNya, dan selama saya mengenal kuasaNya, kuasa yang sama yang bekerja di dalam saya selama saya melayani hanya melalui pengenalan akan Dia; demikianlah pengetahuan akan menjadi efektif untuk menyelesaikan perkara yang Firman Tuhan katakan akan terjadi; ini akan memiliki kuasa melebihi semua iblis.”49
Hanya dalam nama Tuhan Yesus yang berkuasa mengadakan kesembuhan. Rasul Petrus mengatakan, “Demi nama Yesus Kristus… berjalanlah” (Kis. 3:6). Orang yang sakit sembuh dalam nama Yesus bukan dengan nama hamba Tuhan yang mengadakan pelayanan kesembuhan. Sandford mengatakan bahwa kita semua berusaha untuk mendapatkan suatu keseimbangan yang sehat antara pengetahuan keterbatasan kita sendiri dan iman di dalam kuasa Allah yang tidak terbatas untuk menyembuhkan.50

b. Bertobat Dari Perbuatan Dosa

Kata ‘pertobatan’ dari akar kata ‘tobat’, artinya sadar dan menyesal akan dosa yaitu perbuatan yang salah dan jahat, dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.51 Dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata “atonement”, yang berarti membuat at-one-ment dengan Allah atau menjadi satu dengan Allah. Tujuannya adalah untuk memulihkan kita kembali ke dalam kesatuan dengan Tuhan dan untuk semua manusia yang terhilang akibat kejatuhan. Salah satu yang hilang adalah kesehatan dan kekuatan. Jadi kesehatan kita juga dipulihkan melalui pertobatan/persekutuan kita kembali melalui Kristus.52 Dalam Alkitab Perjanjian Lama kata pertobatan dari bahasa Ibrani, “syuy”, artinya berputar, berbalik kembali (Yer. 3:14; Mzm. 78:34). Bagi orang Israel, pertobatan kembali kepada Allah sesudah tersesat, bukan berubah agama tetapi meneguhkan kembali kepercayaan dan ketaatan pribadi kepada Allah. Kemudian dalam Perjanjian Baru, kata ‘pertobatan’ dalam bahasa Yunani, “metanoia dan metanoeo” yang artinya perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan pengabdian kepada-Nya (Luk. 24:47; Kis. 2:38).53
Dalam banyak peristiwa di seluruh Perjanjian Lama, Allah menyatakan diriNya sebagai Penyembuh. Kesembuhan pertama yang dicatat sebagai jawaban doa terdapat dalam kisah Raja Abimelek. “Sebab Tuhan… telah menutup kandungan setiap wanita di istana Abimelekh” (Kej. 20:18. Ketika Abimelekh bertobat, Abraham berdoa kepada Allah dan “Allah menyembuhkan Abimelekh, isterinya serta budak-budaknya perempuan. Kemudian mereka melahirkan anak” (Kej. 20:17).54
Dalam Roma 12:2, dikatakan, “…berubahlah oleh pembaharuan budimu…” Terjemahan yang mungkin lebih tepat: “biarlah rupamu diubah terus”.55 Kata yang dipakai untuk ‘berubahlah’, ialah metamorphousthai. Akar katanya, morphe, yang artinya suatu bentuk atau unsur pokok yang tidak berubah-ubah. Rasul Paulus ingin mengatakan bahwa untuk dapat beribadah dan melayani Allah, manusia harus melalui suatu perubahan, bukan bentuk luarnya, tetapi kepribadian yang ada dalam diri manusia itu. Dalam diri manusia terdapat sarka yaitu kehidupan yang dikuasai oleh tabiat manusia yang paling rendah; tetapi di dalam Kristus terdapat kehidupan yang dikuasai oleh Kristus atau Roh. Hakekat kemanusiaan telah berubah, tidak lagi berpusat kepada diri sendiri tetapi kehidupan yang berpusat pada Kristus,56 yaitu perubahan hati yang terwujud dalam seluruh kehidupan.57
Ide dasar sehubungan dengan kelahiran baru adalah otoritas, wibawa, hak. Seperti dalam Yohanes 1:12: “Tetapi semua orang yang menerimaNya, diberiNya kuasa (the right, NIV, hak) supaya menjadi anak-anak Allah.” Ayat ini adalah mengenai kelahiran baru, karena dalam ayat berikutnya dikatakan bahwa orang-orang yang menerima Kristus “diperanakkan dari Allah”. Kata “kuasa, hak” dalam Yunani, exousia yang menandakan suatu keberadaan atau suatu sifat (kodrat) yang diterima dari suatu sumber yang di luar. Dengan kata lain, pada waktu seseorang menerima Kristus sebagai Juruselamat, di dalam Kristus orang tersebut menerima keberadaan atau kodrat dari Allah, maka terjadilah suatu kelahiran baru di dalam diri orang yang percaya tersebut. Kata asing yang paling sering dipakai untuk menerjemahkan kata exousia adalah “otoritas”. Dan otoritas atau wibawa itulah yang merupakan tanda seorang anak Allah yang telah dilahirkan kembali. Ia bukan lagi budak dosa atau budak Iblis. Ia adalah anak Allah. Dengan demikian, ia memiliki suatu otoritas atau kewibawaan yang baru. Ia tidak lagi jatuh pada waktu menghadapi cobaan atau serangan musuh. Ia menghadapi dan mengatasi semua hal itu, karena terdapat kehidupan yang baru dalam dirinya. Ia menjadi seorang pemenang dan mempunyai “otoritas” atau hak.58

c. Bersedia Menerima Pengampunan Dari Tuhan Yesus

Banyak orang hanya menyambut kasih karunia Allah dengan perkataan saja, sementara hati mereka tidak benar-benar percaya bahwa Ia dapat dan memang benar-benar simpati dengan orang yang berdosa. Tidak pernah kita temukan di dalam Alkitab bahwa Yesus marah terhadap seseorang yang ingin minta pengampunan dariNya. Yesus justru marah hanya kepada orang-orang Farisi yang bersuka di dalam kekuatan mereka sendiri. Yesus hanya ingi agar manusia tahu bahwa pertahanan mereka yang bersifat kedagingan menjadi penghalang yang berdiri di antara mereka dan Dia.59
Dalam Injil Lukas 5:18-26, Yesus sebelum menyembuhkan orang sakit, Dia berkata, “Hai saudara, dosamu sudah diampuni”. Tuhan Yesus menggunakan cara ini mengingat bahwa di Palestina dosa dihubungkan erat dengan penderitaan. Secara implisit, orang percaya bahwa apabila seseorang menderita maka ia pasti telah berdosa. Dan karena itu si penderita sering kali mempunyai perasaan berdosa yang tidak sehat. Itulah sebabnya Yesus mulai dengan mengatakan kepada orang itu bahwa dosanya telah diampuni. Tanpa itu maka orang tersebut tidak akan pernah percaya bahwa ia dapat disembuhkan.60
Dosa merupakan pemisahan dari hadirat Allah yang dapat menghasilkan penyakit, karena pada dasarnya dosa adalah penolakan atas hukum Allah, yang menjauhkan kita dari kehidupan Tuhan, kita dapat melihat bahwa pengasingan ini tetap sebagai penyebab utama dari segala penyakit, karena dalam manifestasi Kerajaan Allah yang akan datang, ketika segala pemberontakan dikalahkan, tidak akan terjadi lagi kesakitan, kesusahan atau kematian (Why. 21:4).61
Kesembuhan adalah inisiatif Allah bagi mereka yang mengasihinya, meskipun dalam situasi tertentu terdapat kasus dimana orang yang belum percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, disembuhkan dari sakit penyakit, namun secara umum menurut pengamatan dapat dilihat bahwa mereka yang sungguh-sungguh mau mengasihi Tuhan Yesus dan minta pengampunan dariNya, sebagian besar mendapat anugerah kesembuhan. Pernyataan ini dipertegas oleh Elwell yang mengatakan, “Jesus’ healing of diseases cannot be separated from His forgiveness of sins or from the death that secures forgiveness.”62 Selanjutnya Hasan Sutanto mengatakan bahwa:
“Dalam pelayanan kesembuhan, orang sakit itu perlu dibimbing mengenal dosanya, sehingga dia bertobat dan mencari pengampunan dari Allah. Dosa jelas mempengaruhi seluruh kehidupan manusia. Dosa dapat menyebabkan seorang jatuh sakit. Hubungan sesama yang kurang harmonis memberikan tekanan pada tubuh, jiwa dan roh, sehingga membuat jatuh sakit.”63
Paulus mengatakan bahwa manusia harus melakukan perbuatan ‘yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna’ (Rm. 12:2); yang artinya bahwa yang baik itu bukanlah suatu asas yang abstrak, tetapi menyatakan diri dalam pergaulan antara seorang percaya kepada Allah. Pergaulan itu menuntut pengabdian sepenuhnya dan itulah makna ‘yang sempurna’. Perkataan ‘sempurna’ ini sekaligus menentukan arti ‘yang baik’ dan ‘yang berkenan’ yang bukan sesuatu yang dapat dijangkau atau sudah terlaksana (Mrk. 10:20), tetapi kesempurnaan itu merupakan tujuan yang selalu harus dikejar.64
Tuhan pasti mengampuni orang berdosa yang mau datang kepadaNya dengan hati yang tulus (1 Yoh. 1:9).
Jonathan Trisna dalam bukunya Mengatasi Masalah Hidup, mengatakan bahwa:
“Pengakuan dosa ini mungkin traumatis dan menyakitkan, tetapi ini harus ada untuk mendapatkan pengampunan Allah. Dalam pengakuan ini juga nyata bahwa semakin dangkal pengakuan kita, semakin dangkal pula kesembuhan yang kita alami. Lebih banyak dalih-dalih yang kita kemukakan atau label-label yang kita gunakan sebagai pengganti kata ‘dosa’ untuk sekedar meringankan dosa kita, misalnya ‘kebodohan’, atau ‘kelengahan’, maka semakin dangkal kesembuhan kita dan mungkin tidak ada pengampunan Allah untuk dosa itu. Sebaliknya semakin dalam dan sesuai dengan penilaian Alkitab pengakuan kita, semakin sempurna pula kesembuhan yang kita alami.”65
Allah menghendaki agar setiap kehidupan orang Kristen berubah. Kita “telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol. 3:10). Allah menghendaki agar kehidupan umat Tuhan dibentuk kembali menjadi serupa dengan gambaran Tuhan Yesus Kristus. Pada mulanya, manusia memang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah; tetapi oleh karena dosa, manusia sudah kehilangan gambaran itu. Di dalam Kristus, manusia dapat dipulihkan agar kembali menjadi gambar dan rupa Allah. Itulah pekerjaan besar yang sedang dilakukan Allah di dalam kehidupan manusia. Pembaharuan atau pembentukan kembali itu dapat terjadi dengan jalan mengubah atau memperbaharui akal budi, dan cara berpikir.66
Setelah pikiran atau akal budi diperbaharui, maka Allah akan dapat mulai mengungkapkan “kehendakNya” yaitu rencana khusus yang telah dipersiapkanNya bagi kehidupan masing-masing orang percaya. Kehendak Allah itu akan disingkapkan melalui tiga tahap,67 yaitu:
Kehendak Allah itu dikatakan “baik”. Artinya, seseorang mulai mengerti bahwa sesungguhnya Allah hanya menghendaki hal yang baik bagi manusia.
Kehendak Allah itu dikatakan “berkenan”. Semakin seseorang mengerti kehendak Allah, semakin siap pula ia untuk menerimanya.
Kehendak Allah itu dikatakan “sempurna”, artinya lengkap, mencakup segala-galanya dan memenuhi kebutuhan dalam segala aspek kehidupan manusia.
Roh Kudus sangat berperan bagi seseorang yang dilahirkan kembali, yang meninggalkan tabiat lama dan yang terikat oleh dosa. Dalam beberapa bagian Paulus menggunakan kata “daging” dalam arti tubuh jasmani (2 Kor. 4:10,11), tetapi dalam Galatia 5, ia maksudkan kecenderungan jahat di dalam diri manusia yang membawa kepada pemuasan kehendak yang mementingkan diri dan perselisihan. Keinginan-keinginan yang datang dari daging sama sekali bertentangan dengan keinginan-keinginan yang datang dari Roh Kudus (Gal. 5:17). Satu-satunya jalan untuk memperoleh kemenangan dalam konflik antara daging dan Roh adalah berpihak sepenuhnya kepada Roh Kudus dan membiarkan Dia memimpin.68 Di mana ada Roh Kudus di situ ada kebebasan. Tetapi kebebasan seperti apa yang dimaksudkan? Stephen Tong mengatakan bahwa:
“Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk tidak berada di bawah tangan setan, belenggu dosa, di dalam kuasa kematian atau di dalam ancaman murka Allah. Kebebasan sejati adalah kebebasan yang melepaskan kita keluar dari kutukan Taurat, dari kerusakan dunia, keluar dari sifat pembawaan dari Adam (dosa asal) dan keluar dari ikatan konsep dunia, agama, filsafat dan tradisi yang salah. Kebebasan sejati harus berada di dalam ikatan sifat ilahi yang penuh dengan kasih, adil, suci dan penuh kebajikan.”69

d. Bergaul Dengan Allah Melalui Doa

Dalam Alkitab doa adalah kebaktian mencakup segala sikap roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah. Orang Kristen berbakti kepada Allah jika ia memuja, mengakui, memuji dan mengajukan permohonan kepadaNya dalam doa. Doa sebagai perbuatan yang dapat dilakukan oleh roh manusia, dapat juga dipandang sebagai persekutuan dengan Allah selama penekanannya diberikan kepada prakarsa ilahi. Seseorang berdoa karena Allah telah menyentuh rohnya. Ajaran Alkitab mengenai doa menekankan sifat Allah, perlunya seseorang berada dalam hubungan penyelamatan atau dalam hubungan perjanjian dengan Dia, lalu secara penuh masuk ke dalam segala hak istimewa dan kewajiban dari hubungan dengan Allah.70
Bagian yang paling sering diabaikan dalam peraturan mengenai kesembuhan ialah doa yang lahir dari iman. Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang yang sakit. Doa yang lahir dari iman ialah doa yang dipanjatkan kepada Allah dimana orang yang berdoa sungguh-sungguh percaya bahwa ia akan menerima apa yang didoakannya itu.71
Seorang kusta pernah berkata pada Yesus. "Jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku" (Mat 8:1-4). Orang kusta ini tidak memiliki keraguan sedikitpun akan kemampuan Yesus untuk memulihkan kondisinya. Daerah keraguannya adalah apakah ini kehendakNya melakukan hal itu. Yesus menghilangkan semua keraguan ketika Ia berkata : "Aku mau, jadilah engkau tahir, seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya".
Karena itu, doa iman adalah penyerahan secara total pada keyakinan bahwa Allah ingin menjawab doa-doa dan menyembuhkan orang yang sakit. Tidak ada tempat bagi kebimbangan, ketidakpastian atau keengganan. Doa ini adalah suatu keyakinan yang utama, yang harus dilakukan.72 Berdoa adalah kegiatan tertinggi dari semua yang termulia dalam kepribadian manusia, dan yang merupakan natur penting dari doa adalah iman. Allah tidak memberikan iman dalam jawaban doa; Ia menyatakan diriNya dalam jawaban doa, dan iman akan terjadi secara spontan.73
Kitab Suci tidak berkata, “tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang dibaptis dengan Roh Kudus, tetapi orang yang percaya… mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Mrk. 16:17, 18). Yakobus menekankan bahwa yang terpenting adalah doa. Doa yang efektif harus dipanjatkan dalam iman jikalau orang sakit akan disembuhkan. Tetapi Tuhan akan memberikan iman sesuai dengan kehendakNya,74 tergantung daripada motivasi, apakah alasannya untuk kemuliaan nama Tuhan, karena banyak keinginan didasari oleh alasan yang egois. Tuhan biasanya tidak meresponi doa yang tertuju pada diri sendiri. Adalah baik untuk mencari kejelasan tentang motivasi seseorang dan pastikan bahwa ini adalah motivasi yang layak.75
Dalam pelayanannya, Kenneth E. Hagin mengatakan:
“Bagi saya kesembuhan ilahi merupakan fakta pelayanan yang biasa saya saksikan. Kesuksesan itu saya capai sebab saya menekankan pengajaran soal iman dan doa. Saya sendiri belum mendapatkan pengurapan khusus yang berasal dari baptisan Roh Kudus. Saya tidak merasakan apa-apa; dan tidak ada sesuatu pun yang keluar dari diriku dan masuk ke dalam tubuh mereka untuk mendatangkan kesembuhan ilahi.”76
Untuk mengetahui seseorang telah mencapai tingkatan doa yang lebih tinggi yaitu jika doa-doanya makin banyak dijawab secara konkret. Doa itu ada dampaknya. Yakobus tidak sekadar mengatakan: “Doa orang yang benar sangat besar kuasanya.” Tetapi ia mengatakan lebih lagi, yaitu bahwa “doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak. 5:16) (The prayer of a righteous man is powerful and effective, NIV). Seandainya hanya itu saja yang dikatakan oleh Yakobus, kalimatnya memang tidak salah, namun masih kurang jelas. Supaya tidak ada keraguan, selanjutnya Yakobus memberikan sebuah contoh konkret. Ia memakai nabi Elia sebagai contohnya, karena nabi Elia juga seorang manusia yang sama seperti manusia lainnya. Pada waktu itu nabi Elia berdoa untuk meminta jangan turun hujan, dan hujan pun tidak turun. Kemudian lagi ia berdoa meminta hujan, hujan pun turun. Doa-doa yang dipanjatkan Elia benar-benar manjur. Elia adalah manusia biasa seperti manusia lainnya, artinya bahwa di kemudian hari Tuhan akan memakai siapa saja yang dikehendakiNya.77

e. Memutuskan Hubungan Dengan Semua Bentuk Okultisme

Istilah okultisme berasal dari perkataan Latin yang artinya “tersembunyi” atau “ditutupi”. 78 Kuasa yang bekerja melalui praktek atau cara-cara okultisme berasal dari Iblis dan bersifat jahat, dan sebagian besar orang terjebak di dalamnya karena tidak menyadari. Mereka tertipu oleh berbagai istilah atau pernyataan yang membuat praktek-praktek tersebut kelihatan sebagai sesuatu yang sangat didambakan manusia. Saluran yang dipakai okultisme adalah ilmu meramal atau sihir yang memakai alat seperti reramuan, guna-guna, jimat, ilmu gaib, mantera, dan jampi-jampi.79
Setiap orang Kristen memiliki otoritas atas semua kuasa kegelapan. Orang Kristen yang paling dianggap sepelepun, ketika diperintahkan dan diberi kuasa oleh Tuhan Yesus, bisa mengalahkan sekumpulan roh jahat. Untuk memutuskan hubungan dengan semua bentuk okultisme, Prince menetapkan beberapa cara80 untuk lepas dari ikatan tersebut, yaitu:
Nyatakan secara pribadi iman kepada Kristus.
Merendahkan diri.
Mengakui semua dosa yang diingat.
Bertobat dari semua dosa
Mengampuni semua orang.
Deere menambahkan bahwa semua ketakutan terhadap roh jahat adalah ketakutan yang tidak sehat. Tidak ada orang Kristen yang harus takut terhadap Iblis atau roh jahat. Satu-satunya Pribadi yang harus ditakuti adalah Allah sendiri. Jika Allah adalah penyebab manifestasi fisik, maka Ia akan menggunakannya untuk kebaikan. Tetapi jika roh jahat yang menyebabkan suatu manifestasi tertentu, kita dapat menghentikannya oleh kuasa darah Kristus. 81

3 Ensiklopedia Alkitab Masa Kini. Jilid II. (Jakarta : Yayasan Bina Kasih / OMF, 1996), 380.
4 H. L. Senduk, Kesembuhan Mujizat. (Jakarta : Yayasan Bethel, t.th), iii.
5 Hin Hong Khoo, Op. Cit., 1.
6 Ada R. Haberson, The Study of The Miracles. (Grand Rapids : Kregel Publications, 1980), 1.
7 A. van de Beek, Op. Cit., 4.
8 Dianne B., & Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. (Jakarta : Kanisius, 2002), 46.
9 R.C.H. Lenski, The Interpretation of St. Matthew’s Gospel. (Minnesota : Augsburg Publishing House, 1961), 316.
10 Ibid., 142.
11 William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari – Matius. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1995), 503-504.
12 J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab Injil Matius. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1994), 142.
13 Fritz Rienecker, A Linguistic Key to The Greek New Testament. Vol.1. (Grand Rapids : Zondervan Publishing House, 1980), 491.
14 R. C. H. Lenski, Op. Cit., 335.
15 Richard M. Sipley, Op. Cit., 132-135.
16 William W & Robert P. Menzies, Op.Cit., 251-252.
17 H.C. Leupold, Exposition of Isaiah. Volume I. (Grand Rapids : Baker Book House, 1971), 228.
18 Fritz Rienecker, Op. Cit., 24.
19 Kata “midrash” berasal dari kata kerja, X!$, yang berarti “mengambil jalan”, “membaca berulang-ulang”, “menginterpretasi”. Penafsiran jenis ini merupakan inti dari penafsiran rabi, dan mungkin sekali penafsiran orang Farisi pada masa awal. Penafsiran midrash cukup beraneka ragam dan menjadi perdebatan dua golongan rabi, yakni kelompok Hillel (70 s.M -10) dan Shammai (abad pertama s.M). Jenis penafsiran midrash antara lain: (1) Qal Wahomer (apa yang dipakai untuk kasus yang kurang penting juga akan dipakai untuk kasus yang lebih penting), (2) Gezerah Shawah (analogi lisan dari satu ayat ke ayat lain. Bila terdapat kata yan sama dari dua kasus, ambillah pertimbangan yang sama untuk kedua-duanya), (3) Binyan ab mikathub ‘ehud (membangun suatu sistem dari suatu teks. Istilah yang sama terdapat pada beberapa bagian Alkitab, pertimbangan yang didadapti dari satu bagian itu juga berlaku atas bagian-bagian lain, (4) Binyan ab mishene Kethubim (membangun suatu sistem dari dua teks. Suatu prinsip yang diperoleh dengan mengubungkan dua teks dapat dipakai untuk bagian-bagian lain. (5) Kedal upherat ( suatu prinsip umum mungkin dibatasi oleh suatu kekhususan di ayat lain. Atau sebaliknya, suatu peraturan khusus mungkin diperluas jadi suatu prinsip umum. (6) Kayoze bo bemoqom aher (kesulitan di satu teks boleh dipecahkan dengan membandingkannya dengan teks lain yang memiliki kesamaan secara umum). (7) Dabar halamed me’inyano (suatu arti dtentukan oleh konteksnya).
Kata “Pesher” berarti “solusi” atau “interpretasi”, suatu kata yang berasal dari bahasa Aram. Ciri khas dari penafsiran ini ialah motif “penggenapan”, yakni “itu” telah digenapkan oleh “ini”. Masyarakat Qumran biasanya menafsir Alkitab dalam pengertian eskatologis dan melihat diri mereka sebagai umat Allah yang benar, yang tersisih pada zaman eskatologis. (Hasan Sutanto : 35-36).
20 J.J. de Heer, Op. Cit, 142-143.
21 John Ruthven, Op.Cit., 106.
22 Warfield sependapat dengan Luther dalam menyangkal hal ini dengan klaim yang jelas bahwa mujizat adalah sungguh-sungguh suatu ‘objek pelajaran’ bagi kebenaran rohani. Menurut mereka bahwa Mat. 8:17 tidak merahasiakan janji terhadap penyembuhan dari setiap penyakit manusia yang dinyatakan secara mendadak atau secara sempurna dalam hidup ini. (Ruthven : 106)
23 William W & Robert P. Menzies, Op.Cit., 250-252.
24 Marvin R. Vincent, Word Studies in New Testament. (Virginia : Macdonald Publishing Companya, t.th), 53.
25 R.C.H. Lenski, Op. Cit., 336.
26 Richard M. Sipley, Op. Cit., 132.
27 Tafsiran Alkitab Masa Kini – Matius-Wahyu. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1983), 92.
28 Wayne Grudem, Systematic Theology. (Grand Rapids : Zondervan, 1994), 580.
29 Ibid., 136.
30 G.C.D. Howley, A New Testament Commentary. (Grand Rapids : Zondervan Publishing House, 1969), 150.
31 William Barclay, Op. Cit., 504.
32 Hin Hong Khoo, Op. Cit., 31-32.
33 R.T. France, Yesus Sang Radikal. (Jakarta : BPK Gunung Mulia,1996), 61.
34 A.M. Hunter, Yesus Tuhan & Juruselamat. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1987), 141.
35 A. Roy Eckardt, Menggali Ulang Yesus Sejarah. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000), 29.
36 James H. Todd, Kristologi. (Malang : Gandum Mas, 2003), 69-70.
37 William W. & Robert P. Menzies, Op. Cit., 239-240.
38 John Stott, Kristus yang Tiada Tara. (Surabaya : Momentum, 2005), 152.
39 William Barclay, Op.Cit., 485.
40 Jack Deere, Surprised by the Power of the Spirit. (Yogyakarta : Yayasan Andi, 1998), 185.
41 Derek Prince, Mereka Akan Mengusir Setan-Setan. (Jakarta : YPI Immanuel, 2000), hlm. 27.
42 John Piper, The Passion of Jesus Christ. (Surabaya : Momentum, 2005), 92-93.
43 John Piper, Op. Cit, 45.
44 Leon Morris, Salib Yesus. (Malang : SAAT, 1991), 104.
45 Took Hammond, Hidup Dalam Kristus Adalah Hidup Dalam Pengurapan. (Jakarta : Light Publishing, 2007), 2.
46 http://www.lead.sabda.org
47 Hin Hong Khoo, Op. Cit., 50.
48 Peter Youngren, Op. Cit., 142-143.
49 Smith Wigglesworth, Jamahan Roh Kudus. (Bandung : Revival Publishing House, 2003), 159.
50 John & Mark Sandford, Pelepasan & Penyembuhan Batiniah. (Jakarta : Nafiri Gabriel, 1992), 165.
51 DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia – Edisi Ketiga. (Jakarta : Balai Pustaka, 2003), 1202.
52 Hing Hong Khoo, Op. Cit., 14.
53 Ensiklopedia Alkitab Masa Kini – Jilid II M-Z. Op. Cit, 486.
54 Peter Youngren, Op. Cit., 25-26.
55 Th. Van den End, Tafsiran Alkitab Surat Roma. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1995), 568.
56 William Barclay, Op.Cit., 235-236.
57 Th. Van den End, Op. Cit., 568.
58 Derek Prince, Faedah Pentakosta. (Jakarta : Immanuel, 1992), 29.
59 John & Mark Sandford, Op. Cit., 113.
60 William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari – Injil Lukas. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2005, 88.
61 Hin Hong Khoo, Op. Cit., 7.
62 Walter A. Elwell, Evangelical Commentary on the Bible. (Grand Rapids : Baker Book House, 1989), 732.
63 Hasan Sutanto, Surat Yakobus. (Malang : Literatur SAAT, 2006), 235-236
64 Th. Van den End, Op. Cit., 569-570.
65 Jonathan A. Trisna, Mengatasi Masalah Hidup. (Jakarta : Lembaga Pendidikan Theologia Bethel, 1998), 34-35.
66 Richard M. Sipley, Op.Cit., 64-65.
67 Derek Prince, Op. Cit., 164-165.
68 Stanley M. Horton, Oknum Roh Kudus. (Malang : Gandum Mas, 2001), 165.
69 Stephen Tong, Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus. (Jakarta : Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1995), 103.
70 J.G.S.S., Ensiklopedia Alkitab Masa Kini. Jilid I. (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000), 249.
71 Richard M. Sipley, Op. Cit., 94.
72 http://www.lead.sabda.org
73 Oswald Chambers, Berdoa Sebuah Tugas yang Kudus. (Batam : Interaksara, 2001), 64, 67.
74 Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. (Malang Gandum Mas, 1994), 2094.
75 Hin Hong Khoo, Op. Cit., 38.
76 Kenneth E. Hagin, Memahami Pengurapan Ilahi. (Jakarta : Immanuel, 1990), 39-40.
77 C. Peter Wagner, Berdoa Dengan Penuh Kuasa. (Jakarta : Nafiri Gabriel, 1998), 17-18.
78 Derek Prince, Op.Cit., 153.
79 Ibid, 163.
80 Ibid, 285.
81 Jack Deere, Op.Cit., 147.