Memuat...

Sabtu, 03 November 2007

SUATU TAFSIRAN TERHADAP SURAT II YOHANES

Struktur surat ini secara keseluruhan konsisten dengan tujannya. Penulis tidak menyela secara tiba-tiba dengan beritanya. Dia menulis dengan otoritas dan masih dengan kehangatan seorang bapa. Pemikirannya masih dalam dua tema yaitu saling mengasihi dan iman Kristen yang benar.


PENDAHULUAN

Teks Surat II Yohanes

Teks Yunani

2 John 1:1 ~O presbu,teroj evklekth/ kuri,a kai. toi/j te,knoij auvth/j( ou]j evgw. avgapw/ evn avlhqei,a( kai. ouvk evgw. mo,noj avlla. kai. pa,ntej oi` evgnwko,tej th.n avlh,qeian( 2 dia. th.n avlh,qeian th.n me,nousan evn h`mi/n kai. meqV h`mw/n e;stai eivj to.n aivw/naÅ 3 e;stai meqV h`mw/n ca,rij e;leoj eivrh,nh para. qeou/ patro.j kai. para. VIhsou/ Cristou/ tou/ ui`ou/ tou/ patro.j evn avlhqei,a kai. avga,phÅ 4 VEca,rhn li,an o[ti eu[rhka evk tw/n te,knwn sou peripatou/ntaj evn avlhqei,a( kaqw.j evntolh.n evla,bomen para. tou/ patro,jÅ 5 kai. nu/n evrwtw/ se( kuri,a( ouvc w`j evntolh.n kainh.n gra,fwn soi avlla. h]n ei;comen avpV avrch/j( i[na avgapw/men avllh,loujÅ 6 kai. au[th evsti.n h` avga,ph( i[na peripatw/men kata. ta.j evntola.j auvtou/\ au[th h` evntolh, evstin( kaqw.j hvkou,sate avpV avrch/j( i[na evn auvth/ peripath/teÅ 7 {Oti polloi. pla,noi evxh/lqon eivj to.n ko,smon( oi` mh. o`mologou/ntej VIhsou/n Cristo.n evrco,menon evn sarki,\ ou-to,j evstin o` pla,noj kai. o` avnti,cristojÅ 8 ble,pete e`autou,j( i[na mh. avpole,shte a] eivrgasa,meqa avlla. misqo.n plh,rh avpola,bhteÅ 9 Pa/j o` proa,gwn kai. mh. me,nwn evn th/ didach/ tou/ Cristou/ qeo.n ouvk e;cei\ o` me,nwn evn th/ didach/( ou-toj kai. to.n pate,ra kai. to.n ui`o.n e;ceiÅ 10 ei; tij e;rcetai pro.j u`ma/j kai. tau,thn th.n didach.n ouv fe,rei( mh. lamba,nete auvto.n eivj oivki,an kai. cai,rein auvtw/ mh. le,gete\ 11 o` le,gwn ga.r auvtw/ cai,rein koinwnei/ toi/j e;rgoij auvtou/ toi/j ponhroi/jÅ 12 Polla. e;cwn u`mi/n gra,fein ouvk evboulh,qhn dia. ca,rtou kai. me,lanoj( avlla. evlpi,zw gene,sqai pro.j u`ma/j kai. sto,ma pro.j sto,ma lalh/sai( i[na h` cara. h`mw/n peplhrwme,nh h=Å 13 VAspa,zetai, se ta. te,kna th/j avdelfh/j sou th/j evklekth/jÅ

Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia (TB LAI).

2 John 1:1 Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran, 2 oleh karena kebenaran yang tetap di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya. 3 Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih. 4 Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa. 5 Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya supaya kita saling mengasihi. 6 Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. 7 Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. 8 Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. 9 Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. 10 Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. 11 Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat. 12 Sungguhpun banyak yang harus kutulis kepadamu, aku tidak mau melakukannya dengan kertas dan tinta, tetapi aku berharap datang sendiri kepadamu dan berbicara berhadapan muka dengan kamu, supaya sempurnalah sukacita kita. 13 Salam kepada kamu dari anak-anak saudaramu yang terpilih.

Pertanyaan Penelitian

Dalam pembacaan teks Firman Tuhan dalam Surat II Yohanes, terdapat beberapa pertanyaan yang timbul dalam pemikiran penafsir, antara lain:

Mengapa Yohanes memberi penekanan kepada perintah untuk saling mengasihi?
Mengapa Yohanes begitu kuatir terhadap ajaran guru-guru palsu?
Apa artinya tinggal di dalam ajaran Kristus?

Beberapa daftar pertanyaan diatas merupakan acuan bagi penafsir untuk melakukan penafsiran dalam makalah ini. Dan diharapkan melalui tafsiran ini, akan didapatkan jawaban-jawaban yang akan semakin menguatkan pertumbuhan iman.

TAFSIRAN SURAT II YOHANES

Analisis

Ayat 1.

Pendahuluan ini mengandung alamat (1, 2) dan salam (3). Disini penulis tidak menyebukan nama pribadinya, seperti biasanya dalam surat-surat Paulus, tetapi dengan memakai “penatua”, ~O presbu,teroj, (nominatif).[1] Ini bukti bahwa dia mengenal pembacanya. Dia tidak ragu bahwa mereka akan segera mengetahui identitasnya dari judul tersebut, yang memberi kesaksian kepada otoritasnya.[2] Pandangan lain mengatakan bahwa “penatua”, tidak berupa bentuk jamak, kalau bentuk tunggal hampir tidak digunakan sebagai judul yang resmi. Karena bagi lembaga penatua, yang penting[3] adalah karakter pendidikannya.[4] Menurut Barclay, “penatua” dapat mempunyai tiga arti yang berbeda-beda. Pertama, ia dapat berarti sekedar “seorang yang lebih tua”, seorang yang karena alasan umur dan pengalaman memperoleh penghormatan. Kedua, sesuai dalam Perjanjian Baru bahwa para penatua adalah “pejabat-pejabat gereja lokal.” Merekalah pertama-tama penatua, pejabat gerejawi, dan Paulus menahbiskan penatua-penatua dalam gereja-gereja mereka pada perjalanan pekabaran Injilnya (Kis. 14:21-23). Ketiga, para penatua merupakan mata rantai langsung antara generasi ke dua orang-orang Kristen. Tidak diragukan bahwa dalam pengertian inilah kata itu dipergunakan di sini. Penulis surat ini adalah satu dari mata rantai terakhir dengan Yesus Kristus dan di dalamnya terletak haknya untuk berbicara. [5]

Suratnya dialamatkan kepada “ibu yang terpilih”, evklekth/ kuri,a, (Elekta Kuria). Para komentator memiliki pandangan yang berbeda, apakah kata ini mengarah kepada seorang individu atau personifikasi gereja. Stott sendiri memberi komentar jika ini adalah seorang wanita yang bernama ‘Electa’. J. Rendel Harris (Clement of Alexandria, 1901), bagaimana dengan ayat 13, dimana ia mempunyai saudara perempuan yang bernama Electa juga! Kemudian sebutan Kyria”, (kuri,a) dimana Yohanes menyebutkannya sebagai yang “terpilih” (chosen, NIV), sedangkan dalam kasus ini, kata sifat (adjective) mungkin sudah didahului oleh artikel kata sandang, seperti dalam 3 Yoh. 1 (the beloved, RSV,tw/ avgaphtw/), ayat 13 dan Rm. 16:13. Ketiga ini mengandung resiko untuk dipakai sebagai kata yang tepat dengan panggilan “Electa Kyria.” Gagasan ini semuanya tidak mungkin. Jika penerimanya adalah pribadi, dia tidak ragu dengan sebuah nama samaran “ibu yang terpilih”. Ketiadaan artikel mengkonfirmasi ini dan hampir banyak mengidentifikasikan ini sebagai Maria, ibu Tuhan (Yoh. 19:27) atau Martha, dalam bahasa Aram, Martha: keduanya berarti nyonya.[6]

“Anak-anak”, te,knon, (datif), adalah anggota gereja dalam hal ini untuk penggunaan dari sebuah gambaran kumpulan yang menunjukkan anggota yang terpilih seperti kata “pengantin” dan “tamu” dalam Wahyu 19:7,9).[7] Kemudian kalau ini menyangkut personifikasi gereja, “terpilih” seperti tulisan Petrus dalam 1 Ptr. 1:1-2 , maka mestilah ini adalah salah satu gereja dia Asia. Pernyataan gereja sebagai “ibu yang terpilih”, memerlukan alasan-alasan yang bijaksana.[8] Barclay[9] dan Schnakenburg[10] sepertinya lebih menyetujui pandangan terakhir ini.

Ayat 2.

Ayat ini dimulai dengan kalimat “oleh karena kebenaran”, dia. th.n avlh,qeian, (because of the truth, RSV), artinya bahwa Yohanes dan semua anggota Kristen lainnya mengasihi gereja ini bukan “demi kebenarannya” (for the truth's sake, KJV). “Kebenaran” adalah dasar dari timbal balik kasih orang Kristen.[11] Kebenaran disini juga berarti realitas Ilahi yang selalu bersama kita (1 Yoh. 1:8; 2:4), dan seperti “hidup” (1 Yoh. 3:15) dan bahkan Roh Kebenaran itu sendiri (1 Yoh. 14:17b). oleh sebab itu “kebenaran” diekspresikan dalam doktrin dan konfesi, kewajiban dari orang-orang percaya “untuk tinggal di dalamnya” (ay. 9), me,nousan, (partisip atributif) yang dilanjutkan dengan e;stai (akan) bentuk future.[12] Artinya kebenaran ini akan memenuhi orang dengan kebijaksanaan Ilahi, berdiam “selamanya” (Yoh. 14:16). Preposisi meta, meqV, ‘with’, (menyertai), membuat kata “kebenaran” kelihatannya hampir dipersonifikasikan.[13]

Ayat 3.

Yohanes dalam ayat 3 ini melanjutkan dengan pengulangan “akan menyertai kita”, e;stai meqV h`mw/n.[14] LAI menempatkan kalimat ini di bagian akhir. Ini merupakan sebuah kalimat penegasan, e;stai yang seharusnya diterjemahkan bukan sebagai sebuah doa, tetapi suatu deklarasi.[15] Lalu kata yang mengikutinya adalah “kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera”, ca,rij e;leoj eivrh,nh. Seluruh ayat ini merupakan contoh yang indah dari cara orang-orang Kristen untuk memulai kata salam dalam permulaan tulisan. Penulis menginginkan para pendengarnya untuk menerima charis (kasih karunia), dan ini kelihatannya sudah menjadi umum diantara orang-orang Kristen mula-mula. Biasanya formula yang dipakai Paulus, dua yaitu “kasih karunia dan damai sejahtera”, tetapi penulis disini menggunakan tiga, yaitu “kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera”. Barangkali ini seperti sebuah kombinasi dari kata salam Yahudi, “kasih karunia dan damai sejahtera” (Gal. 6:16; Yud. 2). Charis (kasih karunia) dalam Perjanjian Baru sering digunakan menyangkut berkat-berkat dari keselamatan, eleos (rahmat) adalah anugerah Allah yang menjamin keselamatan melebihi penghukuman kita (Ef. 2:4; Tit. 3:5); eivrh,nh (damai sejahtera) adalah keselamatan Mesianis (Yes. 52:7). [16] Untuk bagian ini, Stott menambahkan bahwa “kasih karunia dan rahmat” adalah ekspresi dari kasih Allah, kasih karunia untuk kesalahan dan ketidaklayakan, rahmat untuk kebutuhan dan ketidakberdayaan.[17]

“Dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa”, para. qeou/ patro.j kai. para. VIhsou/ Cristou/ tou/ ui`ou/ tou/ patro.j, ini hampir sama dengan penggunaan Paulus, meskipun dalam manuskrip menghilangkan kata “Tuhan’(RSV), sementara KJV menerjemahkannya, “from the Lord Jesus Christ”; Yohanes tetap menambahkan kata “Anak Bapa” sebagai penunjukan kepada Kristus, artinya bahwa Yesus tidak hanya Kristus sebagai Mesias, tetapi juga “Anak Bapa”. Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera yang Yesus Kristus bawa dari Allah, adalah sesuatu yang dunia tidak ketahui (Yoh. 14:27). Ini mengimplikasikan bahwa Anak Bapa telah diutus ke dalam dunia untuk menjadi Pemberi dan Pengantara dari berkat-berkat keselamatan Ilahi.[18] Selain itu, Yohanes sudah akrab dengan tekanan teologi seperti ini, bahkan dengan preposisi “dari” (para),[19] seakan-akan menekankan kesamaan Anak dengan Bapa sebagai sumber berkat.[20] Yohanes begitu pasti akan pemberian-permberian anugerah Allah dalamYesus Kristus, sehingga ia tidak berdoa agar para sahabatnya menerimanya; ia menjamin bahwa mereka akan menerimanya.[21]

“Dalam kebenaran dan kasih”, evn avlhqei,a kai. avga,ph. Menurut Snackenburg, ini adalah tambahan yang berlebih-lebihan (tidak berguna), maka tidak perlu diaplikasikan sebagai tindakan berkat dari Allah. Mungkin ini bertujuan untuk menghasilkan efek berkat Ilahi yang telah dimiliki oleh orang-orang percaya.[22] Berbeda dengan Stott, dia mengartikan bahwa orang percaya telah mengalami kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Bapa dan Anak hanya jika mereka tinggal dalam kebenaran dan kasih, atau akan mengekspresikan diri mereka sendiri, menghasilkan diri mereka dalam kebenaran dan kasih. Kebenaran dan kasih adalah tanda-tanda esensial dari kehidupan Kristen.[23] Barclay menambahkan bahwa Agape, avga,ph adalah kata bagi kasih Kristen dan bukanlah kegairahan, dan nafsu melainkan kehendak baik yang senantiasa mencari kebaikan tertinggi dari orang lain dan mau menerima segala kesulitan. Orang Kristen harus saling mengasihi sebab ia dikasihi.

Ayat 4.

“Bersukacita”, VEca,rhn, (aorist passive tetapi arti aktive), ini menandakan bahwa merupakan suatu kebahagiaan[24] bagi Yohanes ketika mengetahui bahwa beberapa dari anggotanya berjalan dalam kebenaran, yaitu bahwa meskipun mungkin terdapat perpecahan dalam gereja, namun terdapat satu jalan keluar yaitu kasih, yang merupakan “sebuah perintah baru” dari Tuhan Yesus. (Yoh. 13:34, 35).[25] “Berjalan dalam kebenaran”, peripatou/ntaj (partisip kata benda) evn avlhqei,a, (following the truth, RSV), artinya hidup dalam kebenaran termasuk percaya akan sentral kebenaran dari inkarnasi, taat dan menerapkannya dalam kehidupan.[26] Dan ini menunjukkan cara hidup yang murni, sesuai dengan sifat anak-anak Allah yang sesungguhnya, tambah Scnackenburg.[27]

Berjalan dalam kebenaran adalah perintah yang “telah di terima dari Bapa”, evla,bomen (aorist) para. tou/ patro,j. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yoh. 14:15). Artinya jika seseorang tidak mengasihi sesama adalah sama dengan tidak mengasihi Allah, termasuk inkarnasi Yesus. Allah tidak menampakkan kebenaran-Nya dengan cara membiarkan kita bebas pada kemauan kita untuk percaya atau tidak percaya, taat atau tidak taat. Perintah datang bersama dengan tanggung jawabnya, dan semakin jelas perintah, semakin besar tanggung jawab untuk percaya dan mentaatinya;[28] seperti yang dikatakan dalam kitab Amos, "Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (Amos 3:2).

Ayat 5.

“Sekarang”, nu/n, adalah masa temporal (1 Yoh. 2:28), kata ini menggantikan frase aorist dari “aku sangat bersukacita” (ay. 4), dan dilanjutkan dengan formula lengkap, “aku minta kepadamu”, yang mengindikasikan bahwa “penatua” disini sedang masuk ke dalam hati pendengarnya.[29]

“Seolah-olah aku menuliskan”, gra,fwn (partisip cara).[30] Disini Yohanes kembali menekankan untuk “saling mengasihi”, avgapw/men (object) avllh,louj. Menjadi seorang Kristen adalah percaya dalam Kristus dan saling mengasihi (1 Yoh. 3:23). Jika kita menyangkal Anak dan tidak mengasihi, maka kita tidak mengenal Allah (1 Yoh. 5:1; 4:7).[31] “Saling mengasihi”, merupakan tipe tulisan Yohanes dari gaya dan pemikiran. Dia menggunakan kata yang sama dalam 1 Yoh. 2:7, dimana dia menerangkan sesuatu yang mereka telah miliki “dari mulanya”, avpV avrch/j yaitu firman yang telah mereka dengar (imperfect).[32]; barangkali seperti yang diucapkan oleh Yesus dalam Yoh. 13:34; 15:12, 17, atau kembali kepada pengalaman mereka yang mula-mula sekali.[33]; bahwa mereka harus membuktikan kasihnya kepada Allah dengan kasih kepada saudara-saudara sesama.[34] Betapa menyenangkan hal tersebut yang mana berlawanan dengan mereka yang tidak beragama, tidak setia dan yang berbuat jahat.[35]

Ayat 6.

Ayat ini didahului dengan kata ganti penunjuk (demonstrative), ‘dan’, kai, dengan ‘bahwa’, i[na (dua kali). “Dan inilah kasih itu… bahwa kamu harus hidup di dalam kasih”. Dalam ayat 5, penulis telah berbicara mengenai “perintah” dan “kasih”. Sekarang dia mengambil kedua gagasan ini lagi, secara terbalik dan menerjemahkan yang satu kepada pokok lainnya. Mengasihi adalah hidup sesuai dengan perintah Allah (ay. 4); dan inilah perintah yang sesuai dengan hidup orang-orang percaya.[36]

“Kita harus hidup menurut perintah-Nya”, i[na peripatw/men kata. ta.j evntola.j auvtou. Frase ini telah dikombinasikan Yohanes secara terbuka dalam dua konsep, dimana yang satu menerangkan yang lainnya. “Hidup”, (walking, berjalan, KJV), artinya patuh kepada perintah (sesuai dengan perintahNya, ay. 4).[37] Dua perintah yang terdapat dalam ayat ini yaitu “hidup menurut perintah dan hidup dalam kasih”, dalam Yunani merupakan bentuk feminine, auvth/, yang berhubungan satu dengan lainnya, tetapi lebih mengarah kepada kata “kasih”. Kasih dinyatakan dalam ketaatan dan ini sudah “kamu dengar dari mulanya”, hvkou,sate, (aorist). Jika kita mengasihi Allah atau Kristus, kita akan menunjukkannya dengan memelihara perintahNya (Yoh. 14:15, 21).[38] Kemerdekaan dalam Kristus bukan membuat kita bebas untuk melanggar perintahNya. “Aku hendak hidup dalam kelegaan, (liberty, RSV) sebab aku mencari titah-titahMu.” (Mzm. 119:45)

Ayat 7.

Dengan memulai penjelasan dari kata {Oti, hoti (‘for’), Yohanes menunjukkan bahwa dia sudah memiliki pandangan yang berhubungan dengan guru-guru palsu.[39] Yohanes telah menulis dalam surat pertamanya bahwa “banyak nabi-nabi palsu” yang pergi ke seluruh dunia. (1 Yoh. 4:1), dan disini dia menyebutnya “banyak penyesat”, polloi. pla,noi, meskipun bentuk aorist tetapi menerangkan bahwa hal ini “sedang telah pergi ke seluruh dunia”, evxh/lqon eivj to.n ko,smon ‘telah masuk ke dalam dunia’ (entered into the world, KJV). Ini merupakan penekanan akan kenyataan bahwa inkarnasi telah terjadi. Yesus senantiasa datang dalam daging dan itu bukan suatu tindakan yang berakhir selama Yesus melayani di bumi, tetapi sampai sekarang Yesus Kristus senantiasa masuk ke dalam situasi manusia dan ke dalam kehidupan manusia.[40]

Kata kerja evxh/lqon, exeltan, (aorist), dapat diartikan bahwa mereka telah meninggalkan gereja, sama halnya dengan kalimat, Anak telah “meninggalkan” (gone out) Bapa masuk ke dalam dunia (Yoh. 7:29) dan telah mengutus (sent forth) para rasul ke dalam dunia (Yoh. 17:18). Barangkali implikasinya adalah seperti para rasul telah diutus ke dalam dunia untuk memberitakan kebenaran, maka demikian pula para penyesat atau guru-guru palsu pergi untuk memberitakan kebohongan, seperti utusan iblis, bapa dari segala dusta.[41] Para penyesat ini muncul dan mereka “tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia.” “Tidak mengaku”, mh. o`mologou/ntej, (acknowledge, NIV), artinya bahwa “Yesus adalah Kristus” (1 Yoh. 2:22), yang sama artinya dengan mengenalNya sebagai Anak (1 Yoh. 2:23). Pengakuan yang sempurna adalah bahwa Dia “telah datang dalam daging” (coming in the flesh – l Yoh. 4:2, NIV), yang menggunakan bentuk perfecl, evlhluqo,ta (eleluthota). Hal ini bisa juga dibandingkan dengan 1 Yoh. 5:6 yang memakai bentuk aorist, o` evlqw.n, (ho elthon). Sementara dalam ayat ini memakai bentuk present, evrco,menon (erchomenon), artinya bahwa hal ini juga mengarah kepada yang akan datang. Inkarnasi tidak hanya satu peristiwa dalam sejarah. Ini adalah kebenaran yang kekal. (Brooke). Dua natur dari Yesus yaitu ke-Manusia-an dan ke-Allah-an, disatukan dalam kelahiran-Nya, dan tidak pernah bisa dibagi-bagi.[42]

Kata sandang ou-to,j (itu), adalah singular yang menunjuk kepada predikat seorang penyesat dan antikris, yang menunjuk keterangan kepada satu atau dua figur eskatologi. Karena sebelumnya Yohanes sudah berbicara tentang “banyak penyesat”, maka ini lebih mungkin mengarah kepada antikristus. Tradisi yang sudah dikenal oleh penulis (Yohanes) tentang masa eskatologi adalah seseorang tentang antikristus. (1 Yoh. 2:18; 4:3).[43] Tetapi Stott berpendapat, bahwa ini adalah guru-guru palsu yang memiliki dua tujuan yaitu untuk “menyesatkan” (1 Yoh. 2:26) dan sebagai “antrikris” (1 Yoh. 2:18, 22). Kedua gagasan ini dibawa bersama-sama.[44]

Ayat 8.

“Waspadalah”, ble,pete, (imperative – look to yourselves, KJV), ini adalah peringatan eskatologikal.[45] Kata kerja disini sama seperti dalam Mrk. 13:23 (hati-hatilah kamu), dimana peringatan dari Yesus dinyatakan.[46] “Kami kerjakan”, eivrgasa,meqa, metafor dalam ayat ini diambil dari pekerjaan fisik yang kuat (have worked for, KJV). Para pembaca tidak akan kehilangan apa yang telah mereka kerjakan begitu keras,[47] artinya tidak akan kehilangan upah (Mrk. 9:41; Mat. 10:42). Dalam Yoh. 6:27-29, kata “bekerja” digunakan untuk keinginan percaya. Dan kelihatannya Yohanes dalam ayat ini menggunakan metafor seperti dalam Injil Yohanes dimana pernyataannya dibalikkan secara positif.[48] Mereka tidak dapat untuk santai dalam kewaspadaan mereka. Kewaspadaan ini diberikan secara negatif dan positif. Secara negatif yaitu “supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu”, dan secara positif “supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.”[49].
“Mendapat upah”, avpola,bhte, (aorist subject); “upah”, misqo.z, adalah gaji pekerja. Yohanes mungkin berpikir dari dirinya dan mereka sebagai ‘pekerja di ladang Tuhan’, yang mana dalam kasus ini dia ingin agar mereka tidak seharusnya mundur dan dengan demikian menerima “kurang dari upah sehari” (Smith).[50] Snackenburg menambahkan bahwa tidak diragukan ini artinya adalah persekutuan dengan Anak dan Bapa (ay. 9b). Kemudian upah yang penuh adalah kehidupan kekal yang dijanjikan kepada orang-orang percaya (1 Yoh. 2:25; Yoh. 6:27).[51]

Ayat 9.

“Yang tidak tinggal”, proa,gwn, [52] (transgresseth, KJV, ‘melewati, melampaui’, runs ahead, ‘lari melampaui’, NIV), artinya mereka tidak puas dengan “ajaran Kristus”, melainkan ingin pengetahuan yang lebih tinggi dalam tipe gnostik. Yesus berbicara tentang “pengajaran” dalam Yoh. 7:16. Dia ditanyai oleh imam-imam besar “tentang pengajaranNya” (Yoh. 18:19). Artinya bahwa ayat ini berbicara tentang pengajaran yang diberikan oleh Kristus sendiri (subjective genetive).[53] “Setiap orang” yang menyangkal Kristus dengan demikian kehilangan Allah. Dia tidak dapat “memiliki” Allah, artinya menikmati persekutuan denganNya.[54] “Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak”. “Ajaran”, didach/, ‘doktrin’. Barclay mengatakan bahwa bagaimanapun jauhnya seseorang dapat maju, ia harus tetap berada dalam ajaran (atau doktrin) Yesus Kristus[55] sebab kalau tidak, maka ia akan kehilangan kontak dengan Allah. Yesus Kristus harus menjadi batu ujian dari segala pemikiran, kaena Dia bukan suatu theosofi yang bersifat kabut dan tidak terkontrol, tetapi berlabuh pada tokoh historis Yesus Kristus.[56] Gagasan ini sudah ditulis dalam 1 Yoh. 2:23. Penempatan dari “memiliki Allah” (9a) dengan “memiliki Bapa dan Anak” sekali lagi ini muncul dari keyakinan Yohanes bahwa persekutuan dengan Allah dapat dicapai melalui Anak (1 Yoh. 2:23; 5:12). Ini merupakan inti dan kepentingan yang krusial dari seluruh surat ini.[57] Yohanes menggunakan bahasa yang kedengarannya mistis dalam menjelaskan kehidupan Kristen. Salah satu istilah khasnya kurang lebih bermakna “tetap tinggal”. Orang percaya harus “tetap tinggal” di dalam Allah (1 Yoh. 2:24); di dalam Kristus (1 Yoh. 2:5,6); di dalam terang (1 Yoh. 2:10) dan di dalam ajaran yang benar dalam ayat ini. Sedangkan orang yang tidak percaya itu tetap tinggal di dalam maut (1 Yoh. 3:14).[58]

Ayat 10.

Kata “datang”, e;rcetai, sering dipakai Yohanes dalam surat-suratnya untuk “kedatangan” Yesus (1 Yoh. 4:2) dan antikris (2:18). Dalam ayat ini “pendekatan” ditujukan kepada guru-guru palsu dan nabi-nabi palsu.[59] Karena keselamatan para pendengar dalam keadaan bahaya (ay. 8), maka Yohanes menulis surat ini karena dia kuatir, para guru-guru palsu akan datang tanpa diduga.[60]

Yohanes tahu bahwa betapa seriusnya konsekuensi kesalahan dari para guru-guru palsu yang menyebabkan para pengikutnya kehilangan Bapa dan Anak, maka dia tidak hanya mendesak para pembacanya untuk memperhatikan diri mereka sendiri tetapi juga untuk memerintahkan mereka bagaimana cara melayani nabi-nabi palsu yang sedang “masuk ke dalam dunia (ay. 7, KJV), yaitu “jangan menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.”[61] “Menerima”, lamba,nete, disini berbicara tentang roh atau Injil yang berbeda dari yang murni diterima oleh orang-orang Kristen di Korintus. Sementara “rumah”, oivki,an, ini lebih mungkin ditujukan kepada komunitas yang sering berkumpul untuk ibadah. (Rm. 16:5; 1 Kor. 16:19; Kol. 4:15).[62]

Mereka tidak boleh diberikan keramah-tamahan karena ini merupakan jalan yang efektif untuk menghentikan pekerjaan mereka. Demikian juga tidak boleh memberikan salam karena gereja tidak mempunyai toleransi terhadap mereka yang ajaran-ajarannya menghancurkan gereja.[63] Jika demikian halnya, bukankah orang-orang percaya diajarkan untuk berbuat kasih dan ramah tamah kepada sesama? ( 1 Yoh. 3:23; 2 Yoh. 4-6). Kalau Smalley berpandangan bahwa Yohanes sebenarnya tidak melarang individu untuk beramah tamah kecuali masuk ke dalam jemaat resmi.[64] Berbeda halnya dengan Elwell, dia mengatakan bahwa kasih dan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Keduanya motif (ay. 9) dan perbuatan (ay. 10) dari para guru-guru palsu itu adalah jahat.[65]

Ayat 11.

“Salam”, cai,rein, (greeting, full of cheer, happy, KJV). Dalam pandangan Yahudi, salam adalah sesuatu yang lebih daripada hanya formalitas. Salam damai sama dengan berkat (Mat. 10:13). Itulah sebabnya Yohanes melarang para pembacanya karena biasanya orang-orang masuk dalam persekutuan dengan memberi salam. Para guru-guru palsu bergabung dengan niat perbuatan jahat mereka.[66] “Mendapat bagian”, koinwnei, (to share, partaker, KJV), dengan memberi salam kepada mereka, artinya berpartisipasi aktif dalam kesalahan mereka. Ini sama dengan “ambil bagian dengan roh-roh jahat” (1 Kor. 10:20), “ambil bagian dengan dosa-dosa orang lain (1 Tim. 5:22).[67]

“Perbuatan jahat”, e;rgoij ponhroij, (evil deeds, KJV) ini bukan hanya tindakan immoral secara umum (Yoh. 3:19) tetapi khususnya penyebaran kebohongan yang melawan Kristus.[68], atau menyangkut etika dengan menyangkal kepentingan akan kasih.[69] Perbuatan jahat, “wicked work, NIV), ponerois, muncul di akhir kalimat sebagai penekanan. Ini mungkin membawa jiwa kepada kebinasaan yang kekal, maka orang-orang percaya seharusnya tidak memberi dorongan kepada pekerjaan seperti ini.[70]




Ayat 12.

Setelah Yohanes menyajikan kepedulian utamanya, “dia berhenti menulis”, evboulh,qhn (aorist) karena dia ingin mengunjungi komunitas itu “muka dengan muka”. Ini bukan hanya sekedar ingin berbicara langsung, tetapi melibatkan hubungan pribadi antara penulis dan setiap anggota komunitas tersebut sebagai rasa saling mengasihi (ay.5), antara penatua dan para pembacanya.[71] Yohanes menyatakan bahwa dia tidak ingin mempercayai buah pikirannya di atas “kertas dan tinta”, dia. ca,rtou kai. me,lanoj, (secara literal artinya ‘papyrus’ dan ‘hitam’).[72] Berbicara “muka dengan muka”, sto,ma pro.j sto,ma, (secara literal, ‘mulut dengan mulut’; Bil. 12:8; Yer. 32:4), merupakan metode komunikasi yang lebih memuaskan daripada tulisan. Yohanes ingin mengatakan bahwa kedatangannya kepada mereka sebagai guru yang benar akan sangat berbeda dengan guru-guru palsu.[73]

“Supaya sempurnalah sukacita kita”, berkaitan dengan 1 Yoh. 1:4, “kita”, h`mw/n (hemon)[74]. Penulis hanya menunjuk kepada dirinya sendiri.[75] Sukacita yang sempurna (full, KJV, complete, RSV), adalah hasil dari persekutuan. Perjanjian Baru tidak mengenal sukacita yang sempurna diluar persekutuan dengan Bapa dan Anak (1 Yoh. 1:3,4).[76]

Ayat 13.

“The children of thy elect sister greet thee. Amen” (KJV). Surat ini disimpulkan dengan sebuah pesan salam dari “anak-anak saudaramu yang terpilih”, yaitu anggota jemaat perempuan dari gereja dimana Yohanes sedang menulis.[77] Yohanes kembali setelah “kepada kamu”, hymin, dalam ayat 12, kepada kata kiasannya “ibu” dan “anak-anaknya” dan dilanjutkan dengan berbicara kepada anak-anak saudara “perempuan”mu. Inilah anggota gereja yang setia dimana dia sedang tinggal.[78] Ibu yang terpilih adalah gereja yang rupanya Yohanes tulis kepada jemaat di Efesus. Ayat ini melarang penafsiran para komentator yang mengatakan bahwa ini ditujukan kepada gereja universal.[79] Kata ganti orang tunggal se (kamu) cocok dengan kata ganti tunggal “saudaramu”, th/j avdelfh/j, tetapi keduanya memiliki arti kolektif yaitu jemaat secara keseluruhan, dengan anggota-anggotanya.[80]

Sintesis

Setelah melakukan analisa kepada ayat-ayat diatas, maka sintesisnya adalah bahwa Yohanes ingin menegaskan kepada para pendengar untuk hidup dan tinggal dalam perintah Tuhan Yesus yaitu mengikuti ajaran yang benar antara lain saling mengasihi dan yang terutama percaya dan mengakui Yesus yang inkarnasi sebagai Manusia, yang mana hal ini ditolak oleh guru-guru dan nabi-nabi palsu. Bagi mereka yang tinggal dalam ajaran yang benar, maka mereka pun akan memiliki Anak maupun Bapa.

PENUTUP


Jawaban Atas Pertanyaan Penelitian

Jawaban untuk pertanyaan pertama, mengapa Yohanes memberi penekanan kepada perintah untuk saling mengasihi, yaitu bahwa jika seseorang tidak mengasihi sesama adalah sama dengan tidak mengasihi Allah, termasuk inkarnasi Yesus. Allah tidak menampakkan kebenaran-Nya dengan cara membiarkan kita bebas pada kemauan kita untuk percaya atau tidak percaya, taat atau tidak taat. Perintah datang bersama dengan tanggung jawabnya, dan semakin jelas perintah, semakin besar tanggung jawab untuk percaya dan mentaatinya. Jika kita menyangkal Anak dan tidak mengasihi, maka kita tidak mengenal Allah

Jawaban untuk pertanyaan kedua, mengapa Yohanes begitu kuatir terhadap ajaran guru-guru palsu yaitu bahwa seperti para rasul telah diutus ke dalam dunia untuk memberitakan kebenaran, maka demikian pula para penyesat atau guru-guru palsu pergi untuk memberitakan kebohongan, seperti utusan iblis, bapa dari segala dusta. Para penyesat ini muncul dan mereka “tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Yohanes ingin agar para pembaca tidak akan kehilangan apa yang telah mereka kerjakan begitu keras, artinya tidak akan kehilangan upah.

Jawaban pertanyaan ketiga yaitu apa artinya tinggal di dalam ajaran Kristus, yaitu setiap orang yang menyangkal Kristus dengan demikian kehilangan Allah. Dia tidak dapat “memiliki” Allah, artinya menikmati persekutuan denganNya. Bagaimanapun jauhnya seseorang dapat maju, ia harus tetap berada dalam ajaran (atau doktrin) Yesus Kristus sebab kalau tidak, maka ia akan kehilangan kontak dengan Allah. Yesus Kristus harus menjadi batu ujian dari segala pemikiran, kaena Dia bukan suatu theosofi yang bersifat kabut dan tidak terkontrol, tetapi berlabuh pada tokoh historis Yesus Kristus.

Refleksi

Perintah untuk saling mengasihi merupakan respons dari kasih terhadap Anak maupun Bapa. Terlalu banyak orang-orang percaya masih sulit untuk melakukan perintah ini. Mungkin disebabkan oleh peradaban dunia yang semakin mengarah kepada individualisme. Sesungguhnya orang percaya harus sadar bahwa Iblis tidak diam untuk terus mempengaruhi iman mereka. Percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang inkarnasi menjadi Manusia bukan teologi yang dibuat-buat, tetapi merupakan fakta sejarah dan masa kini. Barangsiapa berjalan dalam ajaran yang benar ini, maka dia pantas untuk memiliki kehidupan kekal di dalam Tuhan Yesus.

DAFTAR PUSTAKA



Alkitab Terjemahan Baru. LAI. 2006.

Bible Electronic (KJV, RSV, NIV, Greek LXX/BNT, e-Sword).

Barclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-Surat Yohanes dan Surat
Yudas. (Jakarta : BPK Gunung Mulia), 1990.

Drewes, B.F., Kunci Bahasa Yunani Perjajian Baru. (Jakarta : BPK Gunung Mulia),
2006

Elwel, Walter A., Evangelical Commentary on the Bible. (Grand Rapids : Baker Book
House), 1989.

Henry, Matthew, Concise Commentary on the Whole Bible. (Chicago : Moody Press),
t.th.
Howley, G.C.D., Bruce, F.F. & Ellison, H.L., The New Layman’s Bible Commentary.
(Grand Rapids : Zondervan Publishing House), 1979.

Ladd, George Eldon, Teologi Perjanjian Baru Jilid 2. (Bandung : Yayasan Kalam
Hidup), 1999.

Stott, John, R. W., The Letter of John. (Grand Rapids : Eerdmans), 1991.

Schnakenburg, Rudolf, The Johannine Epistle. (New York : Crossroad), 1992.

Smalley, Stephen S., Word Biblical Commentary – 1,2,3, John. (Texas : Word Books
Publisher), 1984.
[1] Ini tidak hanya menerangkan usia, tetapi posisi yang resmi. (Wescott).
[2] John R.W. Stott, The Letter of John. (Grand Rapids : Eerdmans, 1991), 200.
[3] “ho presbyteros” tidak pernah terjadi dimana pun untuk satu keanggotaan individu dari presbyterium; hanya di dalam 1 Ptr. 5:1 kita menemukan “ho sympresbyteros.” Episkopat mengembangkannya kepada kepemimpinan resmi seperti 1 Tim. 3:2; Titus 1:7. Selain itu, komite presbyter sangat berbeda dalam Yudaisme dan Helenisme, dalam fungsi (politik, perkumpulan, lembaga agama), dalam komposisi (sebutan kehormatan, bagian dari senioritas). Deissmann, Bible Studies, 153.
[4] Rudolf Schnakenburg, The Johannine Epistle. (New York : Crossroad, 1992), 277.
[5] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-Surat Yohanes dan Surat Yudas. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006), 228-230.
[6] Stott, The Letter of John, 200.
[7] Bruce G.C.D. Howley, dkk., The New Layman’s Bible Commentary. (Grand Rapids : Zondervan Publishing House, 1979), 1669.
[8] Stott, The Letter of John, 200.
[9] Lebih mungkin lagi bahwa surat ini ditujukan kepada “gereja.” Jauh lebih mungkin lagi bahwa itulah suatu gereja yang dicintai oleh semua orang yang mengenal kebenaran (ay. 1). Ayat 4 mengatan bahwa beberapa dari anak-anak itu berjalan dalam “kebenaran”. Dalam ayat-ayat 4, 8, 10, 12, kata engkau adalah jamak (kamu), yang makin menguatkan pandangan bahwa yang dimaksud di sini adalah gereja. Petrus mempergunakan hampir persis ungkapan yang sama ketika ia menyampaikan salam dari Yang Terpilih (bentuknya feminin) yang berada di Babilon (1 Ptr. 5:13). (Barclay, 230).
[10] Orang-orang percaya lebih menyukai dirinya disebut sebagai yang “terpilih”. Komunitas disamakan dengan seoang ibu yang mengasihi anak-anaknya (ay.4). Ini adalah bukti nilai yang khusus bahwa gereja mula-mula saling memberkati tiap komunitas. Ini dilakukan tanpa menggantikan gereja lokal dari seluruh gereja Tuhan. Anak-anak ini adalah komunitas yang beriman, dikasihi oleh penulis “dalam kebenaran”, dengan kata lain dalam integritas dan keramahan. (Schankenburg, 278-279).
[11] Stott, The Letter of John, 203.
[12] B.F. Drewes, Kunci Bahasa Yunani Perjajian Baru. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006), 355.
[13] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 280.
[14] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 280.
[15] Stott, The Letter of John, 203-204.
[16] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 280-281.
[17] Stott, The Letter of John, 204.
[18] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 281.
[19] Paulus sering memakai apo (dari) dalam salam pembukaan. (stott, 204).
[20] Stott, The Letter of John, 204.
[21] Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-Surat Yohanes, 233.
[22] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 281.
[23] Stott, The Letter of John, 204.
[24] Yohanes memulai pesannya dengan sebuah ekspresi ucapan syukur (stott, 205).
[25] Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-Surat Yohanes, 234.
[26] Stott, The Letter of John, 206.
[27] Scnakenburg, The Johannine Epistle, 282.
[28] Stott, The Letter of John, 206.
[29] Stephen S, Smalley, Word Biblical Commentary – 1,2,3, John. (New York : Crossroad, 1992), 324.
[30] Drewes, Kunci Bahasa Yunani Perjajian Baru, 355.
[31] Stott, The Letter of John, 206.
[32] Scnakenburg, The Johannine Epistle, 282.
[33] Stephen S, Smalley, Word Biblical Commentary – 1,2,3, John, 325.
[34] Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-Surat Yohanes, 235.
[35] Matthew, Henry, Concise Commentary on the Whole Bible. (Grand Rapids : Baker Book, 1989), 996.
[36] Smalley, Word Biblical Commentary – 1,2,3, John, 326.
[37] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 283.
[38] Stott, The Letter of John, 208.
[39] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 284.
[40] Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-Surat Yohanes, 236.
[41] Stott, The Letter of John, 208-209.
[42] Stott, The Letter of John, 209.
[43] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 284-285.
[44] Stott, The Letter of John, 210.
[45] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 285.
[46] Stott, The Letter of John, 210.
[47] To toil= bekerja keras (tugas, kedudukan), labor for (bekerja untuk). (Greek Dictionaris Elec.)
[48] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 285.
[49] Masing-masing dari tiga kata kerja dalam kalimat ini, antara yang pertama dan kedua pribadi jamak, “kami dan kamu”. Menurut Westcott dan Brooke versi AV, dengan menulis “which we have wrought”, ‘yang telah kami kerjakan’ adalah teks yang tepat. Di sisi lain, RSV membuat yang lebih baik, “what you have worked for”, karena metafor disini dianggap sebagai pembayaran upah pekerja (Mat. 20:8; Yoh. 4:36). (stott, 210).
[50] Stott, The Letter of John, 210.
[51] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 285
[52] Transgresseth diterjemahkan dengan Yunani, parabainon., tetapi dalam ayat ini lebih tepat proagon, dalam RSV diterjemahkan ‘goes ahead’, ‘melangkah maju’, karena ini adalah pandangan superioritas dari gnostik. Yohanes mengarah kepada klaim mereka secara tajam. Pengikut gnostik telah maju terlalu jauh dan mereka telah meninggalkan Allah di belakang. (Stott, 211).
[53] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 286.
[54] Stott, The Letter of John, 211.
[55] Barangsiapa yang melangkah jauh adalah ibarat guru-guru yang “maju” (ay. 7) dan barangkali Diotrefes dari 3 Yoh. 9, kontras denagn mereka yang tinggal dalam injil yang murni, yaitu ajaran Kristus yang mengakui kedatanganNya dalam daging. (Howley, 1669).
[56] Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-Surat Yohanes, 239.
[57] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 286.
[58] George, Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid 2,. (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1999), 438.
[59] Smalley, Word Biblical Commentary – 1,2,3, John, 333.
[60] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 287.
[61] Stott, The Letter of John, 212.
[62] Smalley, Word Biblical Commentary, 333.
[63] Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-Surat Yohanes, 240.
[64] Smalley, Word Biblical Commentary, 333.
[65] Walter A, Elwel, Evangelical Commentary on the Bible. (Grand Rapids : Baker Book House, 1989), 1189.
[66] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 287.
[67] Smalley, Word Biblical Commentary, 334.
[68] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 287.
[69] Smalley, Word Biblical Commentary, 334.
[70] Stott, The Letter of John, 215.
[71] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 288.
[72] Smalley, Word Biblical Commentary, 335.
[73] Stott, The Letter of John, 215.
[74] Genitive plural of (or from) us: - our (company), us, we. (Greek Dictionaries elect.)
[75] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 289.
[76] Stott, The Letter of John, 215.
[77] Stott, The Letter of John, 215.
[78] Schnakenburg, The Johannine Epistle, 289.
[79] Howley, The New Layman’s Bible Commentary, 1660.
[80] Smalley, Word Biblical Commentary, 336.